BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Perkembangan
media yang semakin pesat telah mengubah pola – pola kehidupan masayarakat yang
semakin kaya akan informasi.Informasi kini didapat dengan mudahnya melalui
beragam media cetak maupun elektronik.Pola masayarakat seiring berkembangnya
waktu bergeser menjadi masyarakat yang dimudahkan dengan teknologi
elektronik.Informasi bertebaran dimanapun, hingga sering kita terlibat perang
komentar terhadap berita yang terkadang hanya hoax dan memicu pertengkaran.
Disinilah
peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bertugas, selain bertugas mengawasi isi
siaran, melayani pengaduan masyarakat terhadap isi siaran dan dalam rangka
menjaga martabat dunia penyiaran Indonesia itu sendiri.Memang miris melihat
dunia pertelevisian yang kebanyakan mengejar rating, namun kurang memberi
konten yang yang edukatif terhadap masyarakat.
Bukan
masyarakat kita yang tidak bisa memilih konten yang pas, namun yang sifatnya
benar – benar edukatif memang sedikit sekali.Tentu hal ini sangat berdampak
bagi anak – anak yang menonton televisi tanpa bimbingan orang tua.Disinilah
peran KPI cukup penting dan sangat berkontribusi.
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
kriteria dari dunia penyiaran yang bermartabat ?
2.
Apa
yang dimaksud kriteria kewaspadaan dan peningkatan taraf hidup dalam dunia
penyiaran ?
3.
Apa
saja kriteria acara televisi yang mencerdaskan ?
4.
Bagaimana
penjelasan mengenai problematika keriuhan media ?
5. Apa saja dimensi dan etika
penyiaran ?
6.
Apa
keterkaitan antara KPI dan lembaga penyiaran ?
1.3 Tujuan
1.
Mengetahui
kriteria dari dunia penyiaran yang bermartabat
7.
Mengetahui
kriteria kewaspadaan dan peningkatan taraf hidup dalam dunia penyiaran ?
2. Apa saja kriteria acara televisi
yang mencerdaskan
3.
Memahami
berbagai acara televisi yang mencerdaskan
4.
Mengetahui
fenomena tentang problematika keriuhan pada media
5.
Mengetahui
maksud dimensi dan etika penyiaran
6.
Memahami
keterkaitan antara KPI dan lembaga penyiaran
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1
Dunia Penyiaran yang Bermartabat
Kita
tentu sering mendengar tentang beberapa acara televisi yang diminta untuk tidak
tayang terlebih dahulu leh KPI,Pernahkah kita bertanya apa alasannya? Ada
beberapa alasan yang mendasari KPI melakukan hal tersebut.Diantaranya bisa jadi
program tersebut dinilai meresahkan masyarakat, atau adanya pihak masyarakat
yang mengadukan terhadap acara televisi yang tayang.Peran KPI tidaklah
sesederhana yang kita tahu,tujuan KPI dalam memberikan sanksi teguran adalah
demi merekonstruksi kembali kemandekan – kemandekan yang terkait dengan
kebijakan penyiaran yang berdampak pada munculnya tayangan yang buruk.Dalam
konteks bisnis, hal ino menjadi sanagt penting karena termasuk kebutuhan
pelayanan publik.Dalam konteks keindonesiaan jika kebijakan yang diterapkan
keliru, maka akan berdamapak pada masyarakat yang tidak mendapat ruang untuk
mengakses informasi yang bersifat edukatif.
KPI amat
peduli kepada publik karena frekuensi memang milik publik.Seluruh wilayah
layanan di Indonesia secara geografis digunakan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat akan informasi.Akan tetapi, karena masih lemahnya regulasi
penyiaran, kebutuhan masyarakat akan informasi sering dijustifikasi sebagai
kebutuhan bisnis.Penyiaran yang sehat dan cerdas telah diatur dalam undang –
undang nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran (Pasal 1 ayat 10) secara tegas
menyuratkan sistem penyiaran nasional dan tatanan penyelenggaraan penyiaran
nasional diatur berdasarkan ketentuan perundang – undangan yang berlaku demi
tercapainya asas, tujuan, fungsi, dan arah penyiaran nasional sebagai upaya
mewujudkan cita – cita nasional, sebagaimana digariskan di dalam Pancasila dan
UUD 1945. Kehadiran teknologi merupakan hal yang tidak bisa dihindari oleh
manusia.Manusia hampir selalu dikelilingi oleh teknologi dalam setiap geraknya
kehidupannya.Hal tersebut menarik perhatian pemikir berkebangsaan Kanada,
Marshall McLuhan melalui bukunya Understanding
Media (1964) ia menulis mengenai pengaruh teknologi.Menurutnya, teknologi
media telah menciptakan revoplusi media di tengah masyarakat.Hal tersebut
dikarenakan masyarakat sudah sangat bergantung terhadap media dan tatanan
masyarakat terbentuk berdasarkan pada kemampuanm masyarakat menggunakan
teknologi.McLuhan menggambarkan teknologi elektronik sebagai berikut :
·
Telepon : berbicara tanpa dinding
·
Fotografi
: museum tanpa dinding
·
Cahaya : ruang tanpa dinding
·
Film,
Radio, dan TV : ruang kelas tanpa dinding
·
Phonograph
(alat pemutar lagu) :gedung
pertunjukan musik tanpa dinding
Menurutnya,
Soluran komunikasi memiliki kekuatan dan memberikan pengaruh terhadap
masyarakat.Karena media adalah pesan.
Bangsa Indonesia adalah bangsa
yang beruntung karena sajian penyiaranpenyiarannya diselelaraskan dengan
kebutuhan masyarakat dan budaya bangsa.Kita sebagai penikmat media dapat
mengamati media yang bersifat siklus, apabila peringatan hari Pahlawan maka
media akan meliput hal tersebut, dan contoh selainnya.Insan penyiaran Indonesia
adalah insan yang berkesadaran tinggi dalam menjaga dan meningkatkan
moralitas,nilai – nilai religi, sertajati diri bangsa.Melalui bahasa yang maha
luas, melalui kecerdasan bahasanya, insan penyiaran Indonesia adalah individu –
individu yang berperilaku etis terhadap berbahasa sehingga, tidak menyinggung
perasaan suku, agama, dan ras yang beragam di bumi pertiwi.
1.2
Kewaspadaan dan Peningkatan Taraf Hidup
Insan
penyiaran secara berwaspada harus memberikan nformasi dan mpotivasi secara
lengkap dan utuh kepada masyarakat.Pasalnya, masyarakat berhak memilih sendiri
siaran yang disukainya, untuk kemudia diselaraskan dengan kesejahteraan
hidupnya.Selain itu, insan penyiaran juga harus mapu berpikir, berkata dan
bertindak yang efeknya berada diatas kepentingan semua golongan.Dalam rangka
menjaga dan mempererat persatuan bangsa.Apapun yang hendak ditayangkan
hendaknya tontonan yang memberikan semanagat moral bangsa, karena fungsi
televisi sendiri sebagai sarana edukasi masyarakat.
Menayangkan
informasi prihal disiplin dan taat hukum, misalnya adalah salah satu bukti
kewaspadaan insan penyiaran Indonesia dalam peran sertanya meningkatkan
disiplin nasionalndalam segala hal.Termasuk dalam hal ini adalah upaya insan
penyiaran dalam memberikan edukasi atau motivasi tentang penyaluran pendapat
umum yang santun yang berpegang teguh pada musyawarah dan kekeluargaan
misalnya, melalui penayangan pemilihan ketua suku.Tidak ketinggalan adalah
peran aktif insan penyiaran dalam upaya pelestarian lingkungan karena memang
amat penting bagi kehidupan generasi selanjutnya.
Ketika burung berkicau, koita bisa
jadi memperhatikan dan mendengarkannya.Sebelumnya mungkin kita hanya meremehkan
objeknya, akan tetapi apabila ada dua burung yang saling berkicau, aku harus
benar – benar memperhatikan, mendengarkan dan mempelajarinya.(Times
& Times, 2017b)Kita dapat mengklasifikasikan
dalam BBC tayangannya dalam tiga hal, yakni : konser, opera dan dokumenter.Dari
ketiga hal tersebut tayangan yang paling populer adalah dokumenter.Dikarenakan
pertunjukan konser ataupun opera akan lebih terlihat nyata apabila ditonton
lewat pertunjukan nyata(Times
& Times, 2017a) .BBC juga mengklaim bahwa
penayangan siaran yang berbau agama akan menjadi penjembatan antara organisasi
yang bergerak dibidang keagamaan dengan orang – orang yang haus akan agama (Kane,
2017).Televisi bisa dikatakan pencerminan dari segala
aktifitas sosial lewat iklan – iklannya (Gill
& Gill, 2017).Para penyiar haruslah memiliki
cara penanaman nilai yang berbeda karena
dirinya kecil dan murah namun berjuang dalam kelas yang besar (Bryson,
2017).
1.2.1
Program Siaran yang Mencerdaskan
Membangun
dunia siaran yang bermartabat tak semudah membalikkan telapak tangan.Televisi
telah menjadi media yang dominana sehingga industri pertelevisian menjadi
paling populer.Mengingat para pemirsanya menghabiskan waktu 5-6 jam sehari
dengan jumlah penonton 94 persen.Sejak tahun 2000-an persada Indonesia telah
diramaikan oleh kehadiran lima grup besarstasiun televisi , yakni MNC TV,
Trans, Emtek, Bakrie, dan Metro TV.Sementara itu,keberadaan media cetak semakin
tergeserdengan keberadaan new media. Broadcasting
adalah pemancaran progam televisi,proses pengirirman sinyal ke berbagai lokasi
secara bersamaan,baik melalui satelit, radio, televisis, maupun melalui
komunikasi data pada jaringan dan sebagainya.(Kamus Istilah Pertelevisian karangan Leli Achlina & Purnama
Suwardi,2011,h.27)
Studi komunikasi adalah studi
tentang makna dalam sirkulasi sosialnya.Analisis tekstual merupakan hal yang
sangat penting bagi studi komunikasi.komunikasi bukanlah subyek, dalam arti
kata akdemis kata tersebut, melainkan sebuah bidang multidisiplin.Pandangan ini
akan memunculkan pandangan lain bahwa apa yang dikatakan oleh para psikolog dan
sosiolog mengenai perilaku komunikasi manusia tidak berhubungan dengan apa yang
dikatakan kritikus sastra.
Lalu, apa sesungguhnya tontonan
yang mencerdaskan bangsa ?menurut Henny Supolo, pengamat pendidikan, adalah
tontonan yang inspiratif karena hadirnya seluruh kekuatan yang dimiliki bangsa
ini.Tontonan yang yang yang benar – benar punya komitmen moral.Cobalah ingat
kembali mengenai penayangan prihal wafatnya ustaz gaul Jefri al- Bukhori,
seyogyanya, stasiun televisi dapat mendengarkan suara hatinya.Apakah ia wajib
untuk menayangkan peristiwa duka itu secara berturut – turut atau
tidak.Tayangan itu mungkin enak dan bermanfaat, namun apakah pihak stasiun
televisi itu mau bertanggung jawab mengenai dampak etis berkenaan kehidupan
eluarga ustaz mengingat hampir setiap hari mereka ditampilkan oleh stasiun
televisi.Tidakkah kita boleh percaya bahwa sisi – sisi kehidupan mereka yang
awalnya pribadi menjadi konsumsi publik serta- merta? Kita boleh yakin, stasiun
TV tersebut hanya berpikirpenayangan itu akan mendongkrak rating sehingga dapat
sekaligus menagkap iklan besar.Patut untuk direnungi, akal sehat belum tentu
lebih perkasa dari suara hati, mengingat akal sehat cenderung berangkat dari generalisasi
yang bersifat subjektif, emosional dan biasanya dipenuhi pleh prasangka.
Media
penyiaran ibarat cermin yang merefleksikan berbagaiperistiwa yang terjadi diu
dunia . Dengan begitu patit dipertanyakan secara etis mengapa lembaga penyiaran
sering merasa tidak bersalah ketika menayangkan tontonan yang penuh kekerasan
dengan kekerasan , konflik, pornografi dan berbagai hal buruk yang berkenaan
dengan moral.Padahal jika melihat pendapat McQuail, media penyiaran hanayalah
merefleksikan fakta.Artinya secar profesional media penyiaran dapat membingkai
fakta yang mentah menjadi berguna bagi moral bangsa.Apalagi sudah diketahui
pemirsa tidak sepenuhnya bebas untuk menetapkan apa yang sesungguhnya
merekainginkan.
Media
penyiaran merupaka filter yang menyeleksi berbagai fenomena yang layak mendapat
perhatian pada standar penyiaran yang ditetapkan oleh KPI dalam memilih isu,
informasi dan format isi penyiaran.Terkait kode etik jurnalistik sudah
seharusnya wartawan menyajikan berita yang berimbang dan secara berimbang dan
adil mengutamakn kecermatan dari kecepatan.
Media
penyiaran sebagai [penunjuk jalan yang bertugas u tuk menunjukkan arah yang
benar kepada pemirsanya atas berbagai ketidakpastian, alternatif dan
keberagaman informasi.Media penyiaran juga dpat dikatakan sebagai untuk
mempresentasikan ide – ide pemirsanya sehingga diharapkan adanya umpan balik.
Bila
mau jujur, media massa kinimemang sedang menghadapi masalah bera.Betapa tidak,
walau kebebasan pers dewasa ini amat bisa dirasakan, pembentukan karakter yang
merupakan misi pembentukan media massa itu sendiri terbentur oleh pergerakan
media oleh pasar.Dalam ungkapan lain,praktik pemberitaan atau penyiaran
televisian kita cenderung tidak lagi diwarnai oleh idealisme jurnalistik atau
nilai – nilai luhur bangsa akan tetapi. Telah dilumuri oleh seberapa jauh
tayangan tersebut bisa dijual di pasar dengan berpedoman pada rating.Oleh karena
itu, sebagai sarana berlalu lalangnya informasi sudah seharusnya, media adalah
alat komunikasi interaktif antara penonton dan insan media yang bermanfaat bagi
kecerdasan bangsa.
1.2.2
Dimensi Etika Penyiaran
Pemahaman
tentang etika penyiaranIndonesia juga harus dipertalikan dengan kode etik
lembaga penyiaran Indonesia.Seperti halnya kode etik profesi lainnya, kode etik
penyiaran diharapkan dapat mengatur perilaku moral anggota suat lembaga
penyiaran.Harapan ini tebtu bukan hareapan berlebihan karea kode etik ini
penyiaran dirumuskan secar tertulis oleh para anggota lembaga penyiaran
berdasarkan cita – cita dan ilai – nilai yang hidup dikalangan itu
sendirir.Berkenaan dengan informasi yang relevan dan sesuai, pada hakikatnya
fakta atau realitas itu sendiri adalah kenyataan semu yang telah terbentuk oleh
oleh proses kekuatan sosial , budaya, politik dn ekonomi.Semisal contoh
tayangan seseorang yang awalnya tidak terkenal , akan tetapi mendadak terkenal
karena menjadi istri koruptor , berarti pemorsa telah dibentuk secara paksa
oleh media penyiaran tentang seseorang yang patut ditayangkan sehingga
muncul;lah kenyataan semu bahwa seseorang itu memang patut ditayangkan berulang
– ulang dan terus menerus.
1.2.3
Keriuhan yang Membingungkan
Pada
masa lalum ketika dunia pertelevisian kita hanya diisi oleh TVRI anak – anak
dan remaja hanya mendapat hiburan dari si tokoh boneka si Unyil.Kini, seiring
perkembangan zaman, ketika bermunculan siaran TV swasta ,anak – anak dan remaja
kita mulai kebingungan dengan pilihan tontonan mereka, alias keriuhan yang
membingungkan.Wahyuni menggambarkan dengan tersedianya berbagai progam acara
yang makin beragam membuat para pemirsaya rela menghabiskan waktu 5-6 jam hanya
untuk menikmati acara televisi tersebut dengan dominasi penonton 94 persen,
luar biasa bukan?
Televisi
adalah bagian dari prakondisi dan konstruksi selektif pengetahuan sosial yang
kita buat untuk membuat prespeksi dunia realitas kehidupan orang lain, dan
secara imajiner merekonstruksi hidup kita sehingga menurut Barker menjadi
semacam keseluruhan dunia.Jika dari segi budaya Indonesia memiliki modal besar
dalam industri televisi.Keragaman budaya
dan sosial masyarakat Indonesia contohnya, sebenarnya menjadi bahan baku yang
tak pernah basi menjadi bahan rekonstruksi menjadi teks – teks buadaya baru di
televisi.
Era digitalisasi yang bisa
dimaknai sebagai cerminan era globalisasi, memang membutuhkan tingkat
kecermatan sendiri .Selain penyajian program siaran yang berkualitas ,
infrastruktur yang memadai, juga diperlukana peran pemerintah dalam menduykung
industri kreatif supaya para insan dunia penyaiaran mampu berkompetisi secara
global.Duia perteleviian Indonesia memang bisa dikatakan belum mengacu pada
kepentingan publik.Semangat ini meminjam meminjam pendapat Barker ebenarnya
menghinggapi hampir seluruh pertelevisian dunia.Akar semangat tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut :
·
Karena
adanya penyiaran publik dan penyiaran komersial secara bersamaan
·
Karena
makin banyaknya perusahaan multimedia transnasional
·
Karena
adanya deregulasi penyiaran komersial
·
Karena
tekanan terhadap televisi pelayanan publik untuk bekerja secara logika
komersial
Sebagaimana telah disinggung dalam pembahasan
sebelumnya, penyiaran pada dasarnya merupakan suatu tata permainan bahasa
tersendiri yang berbeda dari tata permainan bhasa lainnya, yang oleh karena itu
memilikinilai – nilai, batas – batas, dan aturan – aturan yang harus dipatuhi
oleh oleh pelaku industri penyiaran.Sudah hakikatnya bahwa bahasamemiliki
dimensi empiris dan sekaligus non empiris yang berupa nilai.Dengan begitu,
setiap produk siaran mengandung suaru putusan moral yang memiliki dua dimensi
tersebut.
1.2.4 KPI
dan Kompetisi Industri Penyiaran
Sebagai lembaga indepnden negara
yang yang bertugas mengawasi regulasi penyiaran di Indonesia.KPI mempunyai
peran sentral dalam mengantisipasi persainagn di Industri penyiaran.Pengawasan
ini dalam hal mengawasi strategi kelayakan isi berita dan strategi yang
dilancarkan oleh lembaga penyiaran itu sendiri.Pada dasarnya, di dalam bisnis penyiaran
tercakup berbagi kepentingan masyarakat dalam memperoleh informasi.Oleh karena
itu orientasi tugas KP[I memang seharusnya dalam rangka memnuhi kebutuhgan
publik.Kebutuhan ini adalah kebutuhgan yang tidak bisa ditawar – tawar lagi
mengingat uu nomor 32 tahun 2002 masih lemah dalam hal – hal berikut :
·
Belum
membahas antisipasi perpimdaham sistem analog ke digital,padahal pada saat ini
hampir semua perangkat pendukung menggunakan teknologi digital.
·
Belum
menjelaskan dan mengaskan aturan tata cara baimana media dapat berkonvergensi
dengan tekniologi komunikasi yang memungkinkan adnay feedback dan partisipasi
langsung.
·
Belum
mengakui bahwa konvergensi di dunia media massa menwarkan dan melakukan semua
yang belum bisa dilakukan media konvensional.
BAB III
KESIMPULAN
Dalam dunia pertelevisian tentu tak
akan dapat berjalan sendiri, perlu adanya pengawas dalam proses
berjalannya.Disinilah peran dari lembaga KPI sebagai pengawas dan lembaga
pengaduan masyarakat. Sehingga tujuan dari televisi dapat tercipta yakni
mencerdaskan masyarakat.Karena mendapat informasi merupakan hak setiap
individu.Sudah menjadi tugas bersama bahwa tayangan yang baik tentu akan
membawa dampak yang baik pula bagi suatu bangsa.Oleh karena itu kita sebagai
penonton tidak hanya menjadi penonton namun pengawas dalam jalannya.
DAFTAR PUSTAKA
Komunikasi Penyiaran Indonesia
Pusat,Kedaulatan Frekuensi Regulasi
Penyiaran, Peran KPI Dan Konverensi
Media,
Fiske,
John (1990) Pengantar Ilmu Komunikasi,
Jogjakarta : Buku Litera
Morisson
(2013) Teori Komunikasi Individu Hingga
Masa, Jakarta : Kencana
Bryson, L. (2017). Broadcasting, 17(2), 221–224.
Gill, A., & Gill, A. (2017). Broadcasting, 30(9),
585–588.
Kane, W. (2017). The Furrow, 4(8), 450–453.
Times, M., & Times, T. M. (2017a). Broadcasting Source :
The Musical Times , Vol . 103 , No . 1431 ( May , 1962 ), p . 324 Published
by : Musical Times Publications Ltd . Stable URL :
http://www.jstor.org/stable/948806, 103(1431).
Times, M., & Times, T. M. (2017b). Broadcasting Source :
The Musical Times , Vol . 105 , No . 1452 ( Feb ., 1964 ), p . 126 Published
by : Musical Times Publications Ltd . Stable URL :
http://www.jstor.org/stable/951244, 105(1452), 126–127.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar