Pendahuluan
Dalam
proses berjalannya suatu badan usaha tentu tak akan lepas dari pro dan kontra.Tujuan
dari perusahaan adalah melayani masyarakat dengan segala bentuk aduannya.Tentu
disini perlu adanya penjembatan antara dua objek yaitu perusahaan ke publik dan
perusahaan terhadap internalnya.Inilah yang merupakan tugas dari pakar public
relations yang
sangat penting dan perlu memahami peran serta bidangnya.Pada analisis dibawah
ini akan membahas mengenai bagaimana pentingnya public relations dalam menangani suatu kasus yang menimpa
perusahaan dan dampak buruk apabila
seorang public relations tidak
benar dalam bertindak.
Akhir – akhir ini public relations bisa dikatakan
merupakan alur yang sangat nyentrik akan
ide dan gagasan.Setiap orang mengatakan tentang public relations tapi tidak sepenuhnya mereka memahami apa maksud
dari itu.Bahkan pekerja yang ditempatkan pada bagian tersebut belum tentu
memahami bagaimana public relations itu
bermula dan diakhiri.Apakah itu bisa dipisahkan dari dunia kerja atau
tidak.Serta, bagaimana, kapan dan dimana hal itu dapat diaplikasikan dalam
suatu organisasi.Disini saya akan mencoba menganalisanya.
Deskripsi Kasus
Pada
kesempatan kali ini, saya selaku penulis akan melakukan analisa terhadap kasus
Dow Corning yang terjadi pada sebuah perusahaan yang bergerak dibidang implant
silikon payudara di Amerika.Kasus ini terjadi pada September 1991.Bermula dari
gugatan masyarakat yang menyatakan bahwa produk implant tersebut mengandung zat
berbahaya dan tidak aman bagi wanita karena dapat menyerang auto imun.Pada
tahap ini, Dow Corning seharusnya mampu mengontrol emosi publik, namun pihak
ini hanya berpegang pada bukti ilmiah.Dimana masyarakat sudah tidak meyakini
kerelevannya.Selain itu, pihak dow corning sendiri tidak terbuka terhadap
publik, mereka justru mengeluarkan banyak juru bicara yang memiliki statemen
berbeda – beda dan justru menimbulkan kebingungan publik.
Pada
tahap selanjutnya, pihak Dow Corning justru menyerang balik FDA atau istilahnya
BPOM karena badan tersebut tidak memiliki data internal perusahaan Dow
Corning.Hal tersebut dinilai sebagai salah satu usaha untuk mengalihkan
perhatian publik yang mengakibatkan memanasnya hubungan kedua belah pihak.Hal
yang sama juga dilakukan pada pihak media, namun karena kurang adanya
keterbukaan informasi menyebabkan pihak media justru memberitakan informasi
yang negatif.Dow Corning mengajukan tuntutan terhadap FDA untuk melakukan tes ulang terhadap
produknya.Bagi FDA informasi yang Dow Corning sebutkan tidak benar, Dow Corning
terus menyangkal yang akhirnya menimbulkan saling serang antar dua pihak.
Pada
tahap terakhir, kisaran tahun 1992 – 1999 pihak Dow Corning masih belum mau
mengakui kesalahannya, namun bersedia untuk bertanggung jawab terhadap beberapa
kasus silikon.Dokumen internal yang digunakan untuk mengembalikan kredibilitas
perusahaan tetap diterbitkan, namun tidak dipungkiri kegagalan perusahaan ini, tentu
tidak dapat dilupakan yang akhirnya menyeret perusahaan ini pada kebangkrutan.
Identifikasi
Masalah
Kita
dapat mengidentifikasi sumber permasalahan pada kasus ini, yakni kurangnya
kesigapan pihak humas atau public relations.Kita
dapat melihat seharusnya pihak perusahaan menyiapkan badan komunikator yang
baik yang mampu mengendalikan publik, bukannya justru mengalihkan perhatian
publik.Disini kita mampu melihat justru permasalahan semakin rumit ketika
banyak pihak yang ikut disertakan.Publik justru semakin dibuat bingung dan
menganggap perusahaan ini kian mengada – ada.Sudah sepatutnya suatu badan
perusahaan itu terbuka terhadap publik, bukannya malah berbelit – belit dan
tidak transparan.
Analisis Kasus
Kita
dapat melihat bahwa pola masyarakat yang dihadapi adalah masyarakat modern yang
memiliki pemahaman lebih, tidak sebatas hanya menjadikan komunikator sebagai
segalanya (Hypodermic Needle Theory).Dalam teori tersebut dikatakan bahwa
komunikator adalah segalanya atau lebih pintar dari audience.Pada dasarnya
penyampaian pesan haruslah sama dan satu arah, masyarakat dianggap sekumpulan
orang yang homogen dan mudah dipengaruhi.Sehingga segala pesan yang disampaikan
dapat langsung diterima (Transmission Belt theory).
Public relation
adalah proses interaksi dimana public relation menciptakan opini publik sebagai
input yang menguntungkan kedua belah pihak, dan menanamkan pengertian,
menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik, bertujuan menanamkan keinginan
baik, kepercayaan saling adanya pengertian, dan citra yang baik dari publiknya.
Menurut Jefkins (2003, p.54) mendefinisikan bebebrapa dari tugas-tugas seorang
PR yaitu:Untuk mengubah citra umum di mata masyarakat sehubungan dengan adanya
kegiatan - kegiatan baru yang dilakukan oleh perusahaan.Untuk meningkatkan
bobot kualitas para calon pegawai. Untuk menyebarluaskan suatu cerita sukses
yang telah dicapai oleh perusahaan kepada publik. Oleh karena itu seorang pakar
public relation sudah seharusnya memiliki kemapuan berkomunikasi,
berorganisasi, bergaul dengan banyak orang dan pandai merangkai kata.
Ahmad
S. Adnanputra, M.A., M.S., pakar humas dalam naskah workshop berjudul PR Strategy (1990), mengatakan bahwa
arti strategi adalah bagian terpadudari suatu rencana (plan), sedangkan rencana merupakan produk dari suatu perencanaan (planning), yang pada akhirnya
perencanaan adalah salah satu fungsi dasar dari proses manajemen. (Ruslan,
2014:133).Pada kasus diatas, kita dapat menyelesaikan masalah
dengan menggunakan pendekatan persuasif
dan edukatif.Fungsi humas adalah menciptakan komunikasi dua arah (timbal balik)
dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada pihak publiknya yang
bersifat mendidik dan memberikan penerangan, maupun dengan menggunakan
pendekatan persuasif, agar tercipta saling pengertian, menghargai, pemahaman,
toleransi dan sebagainya.Bukannya malah menutupi, menyangkal dan berusaha
mengalihkan perhatian masyarakat.
Seorang
praktisi public relations atau humas
memiliki tugas tidak hanya sebagai pembentuk citra positif, melainkan sebagai
fungsi manajemen suatu perusahaan. Fungsi manajemen didasarkan pada analisis
terhadap pengaruh yang kuat dari lingkungan, apa efek dan dampaknya terhadap
publik internal maupun eksternal. Merencanakan suatu kegiatan dan peraturan
untuk direalisasikan, dengan tujuan memperoleh keuntungan dua belah pihak.
(Rumanti, 2002 : 31).Pada kasus ini kita mampu melihat kurangnya manjemen
public relation yang kurang baik dalam menghadapi peroalan yang menimpa
perusahaan Dow Corning.
Dalam
prinsip - prinsip public relations
perlu adanya manajemen isu yang sesuai.Disini yang dimaksud manajmen isu adalah
aktivitas dasar public relations untuk
menjalin komunikasi dua arah dan menjaga kepentingan publik.Hal
tersebut dikemukakan dalam buku Public
Relations,Issue,Crisis Management , karangan Rahmat Kriyantono (2015, h.170) . Seperti yang
dikemukakan dalam buku Public Relations
Writing, karangan Kriyantono (2012, h.36) menjelaskan bahwa krisis yang
dikelola dengan baik akan menjadi titik awal citra perusahaan menuju kondisi
yang lebih baik, namun krisis yang tidak dikelola dengan baik akan membuat
citra yang buruk.Kita dapat menganalisis bagaiman kurang sigapnya Dow Corning
dalam menangani kasusnya sehingga membawanya pada kebangkrutan.
Pada pemecahan masalah ini, menurut saya
teori yang tepat digunakan adalah situtional
theory of the public , teori ini menjelaskan bahwa semakin banyak individu
menjadi anggota public aktif, organisasi dituntut membuka komunikasi dua arah
yang timbal balik agar terjadi pertukaran informasi yang positif dengan
publiknya.Tori ini da[pat digunakan sebagai pijakan bagi praktisi public relations untuk dapat
mengidentifikasi dan mengantisipasi apakah individu – individu mempunyai
motivasi dan kemampuan untuk menjaga kepentingan dan ketertarikannya sebagai
anggota publik dari organisasi (Relations,Issue,Crisis
Management karangan Rahmat Kriyantono 2015, h.414 ) Keaktifan ini
diharapkan tidak hanya terjadi ketika perusahaan tersebut menghadapi konflik
saja, namun bersifat rutin dan berlanjut.
Kesimpulan
Pada
analisis permasalahan Dow Corning , kasus ini memang bermula dari tuntutan
konsumen tentang keamanan produk yang ditawarkan.Namun, karena sistem
penyelesaian masalah yang tidak bisa terbuka, membuat masyarakat kian meragukan
kredibilitas perusahaan ini.Strategi yang digunakan dalam penyelesaian krisis
dianggap kurang tepat hingga akhirnya membawa perusahaan ini bangkrut.Tentu,
ketika suatu perusahaan telah tersandung kasus, pakar Public Relations lah tentu sangat berperan.Pada kasus ini, bisa
dikatakan peran public relations
sangatlah buruk, terlepas dari itu murni tugasnya sebagai public relations atau tuntutan dari pihak perusahaan.Pada intinya
setiap kasus yang muncul dan berkembang di masyarakat tentu dapat diatasi
dengan menggunakan model – model pendekatan komunikasi yang telah dipelajari
oleh public relations itu
sendiri.Serta dapat dicegah dengan pendekatan – pendekatan itu pula, tergantung
penguasaan dan kecermatan pakar public
relations dalam melaksanakan tugasnya.Serta selalu menjadikan prinsip –
prinsip public relations sebagai
falsafah dan peganagan dalam berkarir.Seperti : mengatakan kebenaran,
mebuktikan dengan tindakan, mendengarkan suara konsumen, dan selainnya.Kembali
lagi, bahwa komunikasi itu sangat penting, merupakan kunci dan dilakukan oleh
setiap manusia.Dalam komunikasi tentu menggunakan tanda – tanda yang
ditransmisikan dan bisa didapatkan orang lain.Nah, proses pentransmisian yang
menggunakan tanda – tanda itulah yang dinamakan praktek hubungan sosial.
Daftar Pustaka
Kriyantono, R. (2015). Public Relations, Issue & Crisis
Managemant: Pendekatan Critical Public Relations,
Etnografi Kritis, & Kualitatif. Jakarta: Prenadamedia.
LaPlant,
K. (1999). The Dow Corning crisis: A benchmark. Public Relations Quarterly, 44 (2),
32.
Fiske, J.
(2016). Pengantar Ilmu Komunikasi.
Yogyakarta : Buku Litera.
Harlow,
Rex F .1945.Public Relations at the Crossroads : The Public Opinion Quarterly :
American Association of the Public
Relations Research, 8(4),551-556
Nama : Wardah Hani
NIM : 165120218113011 / Ilmu Komunikasi / FISIP / Universitas Brawijaya
(Analisis ini dibuat dalam rangka pemenuhan tugas mata kuliah Dasar - Dasar Public Relations, apabila ada kesalahan dalam penulisan mohon diberi masukan, terima kasih).
(Analisis ini dibuat dalam rangka pemenuhan tugas mata kuliah Dasar - Dasar Public Relations, apabila ada kesalahan dalam penulisan mohon diberi masukan, terima kasih).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar