Selasa, 28 Maret 2017

Tradisi Retorika Dalam Teori Komunikasi




Pendahuluan
Apakah anda termauk orang yang tertarik umtuk nerbicara di depan publik?apakah anda termasuk orang yang suka mempelajari teks  dan anda sering memikirkan makna dan dampak dari teks tersebut? Berarti anda dimungkinkan memiliki ketertarikan terhadap tradisi retorika dalam teor komunikasi.
Kata retorika sering dinilai negatif karena menunjukkan orang-orang yang hanya mengungkapkan kata-kata kosong tanpa disertai tindakan nyata. Studi mengenai retorika sudah dimulai sejak lama dan diperkirakan orang sudah mempelajari retorika di yunani pada 5 abad sebelum masehi sedangkan komunikasi baru dianggap sebagai disiplin ilmu setelah munculnya retorika sebagai human symbol use (penggunaan simbol oleh manusia).
Pengertian Retorika
Retorika atau dalam bahasa Inggris rhetoric bersumber dari perkataan latinrhetorica yang berarti ilmu bicara. Pada abad ke 5 sebelum masehi untuk pertama kali dikenal suatu ilmu yang mengkaji proses pernyataan antar manusia sebagai fenomena sosial. Ilmu ini dinamakan dalam bahasa Yunani “rhetorike” yang dikembangkan di Yunani purba, kemudian abad-abad berikutnya di kembangkan di Romawi dalam bahasa latin “retorika” (dalam bahasa Inggris “rhetoric” dalam bahasa Indonesia “retorika”). 
The art of constructing arguments and speechmaking (seni membangun argumentasi dan seni berbicara )
Adjusting ideas to poeple and poeple to ideas in messege of all kinds (proses untuk menyesuaikan  ide dengan orang dan menyesuaikan orang dengan engan ide melalui berbagai macam pesan.
Pengertian pokok dari retorika adalah berbicara. Berbicara berarti mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai suatu tujuan tertentu (memberikan informasi atau memberikan motivasi). Berbicara adalah salah satu kemampuan khusus pada manusia. Berikut disampaikan uraian mengenai retorika diantaranya:
1.             Arti Retorika
Secara etimologis, retorika berasal dari bahasa Yunani, “rhetrike” yang berarti seni kemampuan berbicara yang dimiliki seseorang. Aristoteles dalam bukunya “Rhetoric” mengemukakan pengertian retorika, yaitu kemampuan untuk memilih dan menggunakan bahasa dalam situasi tertentu secara efektif untuk mempersuasi orang lain. Sedangkan menurut Gorys Keraf, retorika adalah suatu istilah secara tradisional yang diberikan pada suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik. Menurut P. Dori Wuwur Hendrikus, retorika adalah kesenian untuk berbicara baik yang digunakan dalam proses komunikasi antarmanusia.
Retorika berarti kesenian untuk berbicara dengan baik (kunst, gut zu reden atau ars bene dicendi), yang dicapai berdasarkan bakat alam (talenta) dan keterampilan teknis (ars, techne). Kesenian berbicara ini bukan hanya berarti berbicara lancar tanpa pikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu kemampuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat, dan mengesankan. Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian dan kesanggupan berbicara. Dalam bahasa populer, retorika berarti pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata-kata yang tepat, benar dan mengesankan.
Keterampilan dan kesanggupan untuk menguasai seni berbicara dapat dengan mencontoh para rektor yang terkenal (imitatio), dengan mempelajari dan mempergunakan hukum-hukum retorika (doctrina), dan dengan melakukan latihan yang teratur (exercitium). Dalam seni berbicara juga dituntut penguasaan bahan (res) dan pengungkapan yang tepat melalui bahasa (verba).

Retorika Sebagai Proses Komunikasi
Aspek-aspek komunikasi retoris sebagai berikut:
1.)         Seorang pembicara menyampaikan kepada;
2.)         Seorang pendengar sebagai kawan bicara atau pelanggan;
3.)         Dengan maksud dan tujuan tertentu
4)          Memberikan argumen-argumen terhadap isi pembicaraan;
5)          Sambil mendengar dan mempertimbangkan argument-argumen balik dari pendengar.

Retorika, Dialektika dan Elocutio
Ilmu retorika juga berhubungan erat dengan dialektika yang sudah berkembang sejak zaman Yunani kuno. Dialektika adalah metode untuk mencari kebenaran lewat diskusi dan debat. Melalui dialektika orang dapat mengenal dan menyelami suatu masalah (intellectio), mengemukakan argumentasi (inventio) dan menyusun jalan pikiran secara logis (dispositio). Retorika mempunyai hubungan dengan dialektika karena debat dan diskusi juga merupakan bagian dari ilmu retorika.
Elocutio berarti kelancaran berbicara. Dalam retorika kelancaran berbicara sangat dituntut. Elocutio menjadi prasyarat kepandaian berbicara. Oleh karena itu, retorika juga berhubungan erat dengan elocutio.
 APAKAH RETORIKA DAPAT DIPELAJARI?
Sebuah pepatah bahasa latin berbunyi: “Poeta nascitur, orator fit.” Artinya, “seorang penyair dilahirkan, tetapi seorang ahli pidato dibina”. Sejak dua ribu tahun terbukti bahwa banyak orang menjadi ahli pidato, karena mereka mempelajari teknik berbicara dan berpidato serta tekun melakukan latihan berbicara juga berpidato. Berikut terdapat dua contoh dalam sejarah yaitu:
1.             Demosthenes (384 - 322)
Demosthenes dari lahir memiliki kekurangan dalam berbicara. Dalam mengatasi itu, dia pergi ke pantai laut, menaruh kerikil dalam mulutnya, dan berusaha berbicara dengan ucapan yang jelas dan dengan suara yang sekuat mungkin untuk bisa mengatasi gemuruh hempasan ombak, dan usahanya ini berhasil. Demosthenes akhirnya menjadi seorang ahli pidato dalam Kerajaan Yunani Kuno.

2.             Winston Churchill (1874 - 1965)
Untuk bisa berpidato di depan Parlemen Inggris. Winston Churchill berhari–hari dia mencoba membuat latihan membaca dan berpidato. Dia mempersiapkan diri secara intensif. Beberapa bagian penting dari pidatonya malah dihafalkan. Usaha yang tekun ini akhirnya menjadikannya seorang ahli pidato terkenal.Orang-orang yang bersifat introver dapat mengalami kesulitan dalam menggunakan bahasa. Introver adalah bersifat suka memendam rasa dan pikiran sendiri dan tidak mengutarakannya kepada orang lain (bersifat tertutup). Dalam mempelajari retorika lebih mudah bagi mereka yang ekstover, tetapi tetap saja keberhasilan seni berbicara tergantung dari usaha untuk mengembangkan kemampuan dengan optimal. Terus latihan untuk berbicara akan merubah gaya berbicara seseorang. Oleh karena itu, seni berbicara dapat dikuasai dan ilmu retorika juga dapat dipelajari.

Retorika memiliki 5 ajaran atau canon yaitu
1.      Penciptaan (invention)
2.      Pengaturan (arrangement)
3.      Gaya (style)
4.      Penyampaian (delivery)
5.      Ingatan (memory)
Dikutip dari little john hal 50
Ke 5 canon tersebut merupakan elemen-elemen dalam merencanakan dan mempersiapkan pidato. Dalam hal ini, sebelum berbicara maka pembicara (rhetor) harus menemukan ide, bagaimana mengorganisasi gagasan, lalu membingkai gagasan dalam bahasa, menyampaikan gagasan dan akhirnya bagaimana agar apa yang disampaikan itu menjadi ingatan bagi yang menerima nya
Kegunaan Komunikasi Retorika
 Konrad Lorenz mengatakan, “Apa yang diucapkan tidak berarti juga didengar; apa yang didengar tidak berarti juga dimengerti; apa yang dimengerti tidak berarti juga disetujui; apa yang disetujui tidak berarti juga diterima; apa yang diterima tidak berarti juga dihayati; apa yang dihayati tidak berarti juga mengubah tingkah laku.”
            Kalimat-kalimat di atas mengungkapkan kesulitan dalam proses komunikasi antarmanusia. Antara ide atau pikiran dan realisasinya yang konkret terbentang satu jalan panjang, yang memiliki berbagai macam kesulitan dalam penyampaian, sehingga dapat mengurangi efektivitas dalam proses komunikasi.Oleh karena itu, komunikasi retoris itu penting supaya apa yang diucapkan dapat didengar; apa yang didengar dapat dimengerti; apa yang dimengerti dapat disetujui; apa yang disetujui dapat diterima; apa yang diterima dapat dihayati dan apa yang dapat dihayati dapat mengubah tingkah laku.
Pembagian Retorika
1. Monologika
Monologika adalah ilmu tentang seni berbicara secara monolog, di mana hanya seorang yang berbicara. Bentuk-bentuk yang tergolong dalam monologika adalah pidato, kata sambutan, kuliah, makalah, ceramah dan deklamasi. .  Monologika adalah ilmu tentang seni berbicara secara monolog, dimana hanya seorang yang berbicara. Bentuk-bentuk yang tergolong dalam monologika adalah pidato, kata sambutan, kuliah, makalah, ceramah dan deklamasi.

2. Dialogika
Dialogika adalah ilmu tentang seni berbicara secara dialog, di mana dua orang atau lebih berbicara atau mengambil bagian dalam satu proses pembicaraan. Bentuk dialogika yang penting adalah diskusi, tanya jawab, perundingan, percakapan dan debat. Dialogika adalah ilmu tentang seni berbicara secara dialog, dimana dua orang atau lebih berbicara atau mengambil bagian dalam satu proses pembicaraan. Bentuk dialogika yang penting adalah diskusi, tanya jawab, perundingan, percakapan dan debat.

3. Pembinaan Teknik Bicara
Efektivitas monologika dan dialogika tergantung juga pada teknik bicara. Teknik bicara merupakan syarat bagi retorika. Oleh karena itu pembinaan teknik bicara merupakan bagian yang penting dalam retorika. Dalam bagian ini, perhatian lebih diarahkan pada pembinaan teknik nafas, teknik mengucap, bina suara, teknik membaca dan bercerita.
Manfaat Mempelajari Retorika
1. Membimbing penutur mengambil keputusan yang tepat.
2. Membimbing penutur secara lebih baik memahami masalah kejiwaan manusia pada umumnya dan kejiwaan penanggap tutur yang akan dan sedang dihadapi.
3. Membimbing penutur menemukan ulasan yang baik.
4. Membimbing penutur mempertahankan diri serta mempertahankan kebenaran dengan alasan yang masuk akal
Contoh
Sebuah contoh: sebuah mobil bekas akan dijual. Pemilik mobil tentu ingin menjualnya dengan harga yang memuaskan (tujuan). Dalam pembicaraan dengan calon pembeli, penjual tentu tidak hanya menjelaskan tentang merk, tipe, tahun keluaran, dan cirri khas mobil, tetapi dia pasti juga akan memuji-muji mobil tersebut. Misalnya: terpelihara baik, bentuknya sangat cocok dengan keadaan jalan dan tidak pernah terjadi kecelakaan. Singkatnya: mobil bekas yang paling ideal, yang apabila dibandingkan dengan harga, sebenarnya masih terlalu murah.  Di lain pihak calon pembeli juga ingin supaya dapat membeli mobil itu dengan harga yang murah (tujuan). Oleh karena itu, terjadi tawar menawar dalam perdagangan, dimana penjual dan pembeli saling memberi argumentasi untuk mencapai tujuannya masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA


Littlejohn, s & Karen, A .2008.Teoryi Komunikasi.Jakarta : Salemba Humanika


Arief, Ermawati. 2001. “Retorika (Seni Berbahasa Lisan dan Tulisan)”. Buku Ajar. Padang: FBSS UNP.
                       
P. D. W. Hendrikus SVD. 1991. Retorika. Yogyakarta: Kanisius.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar