Studi Kasus 1
Badrun
adalah mahasiswa komunikasi UB yang sedang magang di Hotel Savanah Malang.
Badrun mendapat tugas dari Manajer PR HS untuk membuat klipping opini pembaca
yang dimuat di surat kabar selama 3 bulan. Ia bertanya-tanya sebenarnya apakah
tujuan dari kegiatan tersebut, gunakan argumen yang disertai landasan teoritis.
Uraian
Fenomena yang dialami Badrun dapat
dianalisis menggunakan kajian teori Public Relations yakni teori Agenda Building Information Subsidies. Teori
ini merupakan serapan dari teori komunikasi massa yakni teori Agenda Setting. Merupakan teori yang menyatakan bahwa media massa memiliki
power untuk menentukan kebenaran. Dengan kemampuan media massa untuk
mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik
dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang
dianggap penting oleh media massa.
Media
memang memiliki dua power yang sangat besar, yakni kuasa untuk mempengaruhi
publik dan kuasa sebagai gatekeeper
yang bermakna sebagai framing serta
penyeleksi apa yang hendak diberitakan (Kriyantono, 2014, h. 326). Hal ini bermakna bahwa masyarakat cenderung menilai sesuatu
penting, sebagaimana media massa menganggap hal tersebut penting. Sebaliknya,
jika isu tersebut tidak dianggap penting oleh media massa, maka isu tersebut
juga menjadi tidak penting bagi diri masyarakat, bahkan menjadi tidak terlihat
sama sekali. Itu merupakan makna dari teori Agenda Setting yang kami singgung
sedikit.
Teori
Agenda Building Information Subsidies
dalam Teori Agenda Building Information subsidies memiliki 2 level (Kriyantono,
2014, h. 328) , yakni :
·
Amati isu yang dianggap penting, lihat
apa yang terjadi dan fokus menjadi pemberitaan media dalam kurun waktu
tertentu. Lakukan fokus pada bagian opini pembaca untuk melihat isu publik yang
sedang berkembang di masyarakat.
·
Lalu lihat bagaimana media melakukan
framing.
Anda
bisa melakukan analisa pada praktik teori PR ini dengan melakukan klipping
dengan mengamati beragam isu yang sedang diberitakan oleh media. Hal ini sesuai
dengan kegiatan yang dilakukan oleh Badrun. Dengan melakukan pengamatan dalam kurun
waktu tertentu, semisal 3 bulan. Dengan mengumpulkan klippping opini pembaca,
maka kita dapat menyimpulkan isu apa yang tengah menjadi sorotan media dan
menjadi opini publik.
Selanjutnya
sebagai seorang praktisi PR, gunakan fokus bahasan media berdasarkan opini
pembaca tersebut menjadi beragam kegiatan PR yang menarik. Dengan begitu
kegiatan–kegiatan tersebut akan lebih mudah diterima dan mendapat perhatian
publik, Karena sesuai dengan prioritas dan fokus publik. Bentuk aktivitas PR
tersebut bisa dalam bentuk yang beragam sesuai kebutuhan publik. Salah-satunya,
semisal isu Banjir. Praktisi PR bisa mencanangkan kegiatan pengerukan sungai
dan reboisasi lewat penanaman seribu pohon. Hal tersebt akan lebih mudah untuk
diterima masyarakat karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat lewat fokus isu
yang diberitakan media.
Disini
peran teori Agenda Building Information Subsidies adalah fokus pemberitaan
media dalam kurun waktu tertentu menjadi fokus praktisi PR dalam menciptaan
aktivitas PR yang sesuai dengan kebutuhan publik. Hal ini juga berangkat dari
fungsi PR sebagai jurnalist in residence
yaitu mampu memberikan informasi pula kepada publik berdasarkan isu yang
berkembang di ranah publik. PR tidak sekedar mengeluarkan press release namun Pr juga harus
rajin membaca dan melakukan pengamatan.
PR dalam setiap kegiatannya menciptakan kerja sama
berdasarkan relasi baik dengan publiknya secara kontinu ditumbuhkembangkan.
Publik yang dimaksud di dalam PR adalah kelompok atau public yang terkait dalam
pelaksanaan fungsi PR itu. Sebagai seorang praktisi PR akan
sesuai apabila memetakan program – program CSR nya menyesuaikan isu yang
berkembang. Dengan begitu akan mudah diterima oleh publik dan banyak mendapat
perhatian publik. Kembali lagi, Badrun
diberi tugas tersebut supaya ia mengamati isu apa yang menjadi perhatian media,
lalu disalurkan melalui aktivitas PR untuk masyarakat. Supaya program yang
dilaksanakan sesuai dengan masalah dan diterima masyarakat dengan baik.
Studi Kasus 2
Seorang wartawan melakukan wawancara
dengan Humas UB tentang suatu kebijakan tentang pelarangan mahasiswa merokok di
areal kampus. Saat Humas ditanya wartawan, Ia menjawab bahwa ia belum mampu
memberikan klarifikasi sebelum adanya ijin dari pimpinan.
Uraian
Fenomena
tersebut dapat dianalisis menggunakan teori Uncertainly
Reduction yang dicetuskan oleh Berger dan Richard Calabrase di tahun 1975.
Fungsi dari komunikasi adalah untuk mengurangi keragu-raguan. Makna dari
informasi adalah sebagai alat yang mampu mengurangi ketidakpastian pada situasi
tertentu.
Disini, peran dari praktisi PR
adalah sebagai agen yang mampu memberikan informasi kepada khalayak. Ia
dituntut harus memahamim suatu permasalahan lebih awal dan mendalam. Jangan
sampai terjadi salah informasi. Karena informasi yang akan ia berikan akan
dianggap berita oleh khalayak. Makna dari berita itu sendiri adalah informasi yang
sudah tentu benar.
Seorang praktisi PR dituntut harus
memahami suatu kasus, lalu melakukan analisa. Ia harus mampu memprediksiskan
kemungkinan yang respon publik dan apa yang akan terjadi. Ia dituntut memahami
orang lain berkaca melalui diri anda, membuat prediksi tentang perilaku orang
lain, lalu menjelaskannya. (Kriyantono, 2014, h. 140).
Melalui sikap yang dicerminkan oleh
Humas UB saat ditanya oleh wartawan, hal tersebut sangat tidak efektif dilihat
dari segi publisitas media. Dikhawatirkan media akan mengarang berita yang
tidak sebenarnya karena Humas tidak mamberikan informasi yang cukup pada awak
wartawan. Sikap Humas tersebut sangatlah
tidak mencerminkan posisi dari praktisi PR sebagai jurnalist in residence. Seharusnya ia memberikan kecukupan
informasi yang dibutuhkan oleh media, ia dituntut untuk memahami kasus lebih awal
sehingga mampu membuat prediksi sikap yang menjadi respons publik selanjutnya.
Hal tersebut berdasarkan analisa teori ini maka peran dari Praktisi Humas UB
ini dirasa sangat kurang efektif dan tidak mencerminkan peran praktisi PR yang
sesungguhnya.
Studi Kasus 3
Marmud adalah karyawan PT Makmur
Sekali, ia dikenal sebagai pribadi yang berprestasi dan gigih. Ia mampu menarik
konsumen secara cepat karena kemampuannya. Namun, disisi lain ia dikenal
sebagai pembuat onar, dia sering membolos, bertengkar dengan rekan kerja dan
lebih suka bekerja sendiri.
Analisis
Pada fenomena ini, kita dapat
menggunakan teori the mathematical information. Teori ini diungkapkan oleh
Shannon & Weafer di tahun 1964. Mereka menganggap bahwa komunikasi
merupakan suatu proses transmisi. Proses transimisi yang menyalurkan informasi
dari satu titik ke titik lainnya. Pada proses ini selamanya tidak selalu
lancar, akan selalu ada noise yang terjadi didalamnya. Noise inilah yang
akhirnya menciptakan gangguan persepsi akibat informasi yang diterima komunikan
secara tidak sempurna. Noise ini dapat berupa noise, mekanik, sementik,
environment dan lain-lain.
Teori
ini memiliki 3 level (Kriyantono, 2014, h. 134), yakni :
1. Seberapa
akurat simbol komunikasi dapat dttransmisikan
2. Setepat
apa simbol menyampaikan makna yang diinginkan komunikator
3. Seberapa
ekektif makna yang diterima mempengaruhi komunikan seperti yang diinginkan
komunikator
Melihat
kasus yang terjadi pada Marmud adalah kasus noise, seorang praktisi PR
diposisikan orang yang mampu memahami alur pikiran dari Marmud. Marmud adalah
contoh orang yang memiliki potensi namun kurang sesuai dengan kondisi
lingkungan. Kondisi lingkungan inilah yang menjadi noise dan harus dilihat apa
yang kurang sesuai. Berdasarkan alur transmisi liniernya dapat dilihat dan
dikoreki mana bagian yang dianggap noise dan kurang sesuai.
Studi Kasus
PT
HS adalah perusahaan yang besar hyang bergerak dibidang asuransi jiwa, lalu
mendadak ia kalah dengan PT BS disampingnya yang bergerak dibidang catering, PT
BS seringkali mendapat liputan media.
Analisis
Fenomena ini dapat dianalisis
menggunakan teori relationship management
yakni teori upaya menjaga relasi. Melihat fenomena ini harus dilihat
terlebih dahulu, apakah praktisi PR mampu melakukan komunikasi yang efektif
sehingga mampu menjalin relasi yang baik dengan media. Sehingga media mau
meliputnya.
analisis ini dubuat berdasarkan tugas UTS Mata Kuliah Teori-teori PR dengan menggunakan buku Teori-Teori Public Relations Prespektif Barat dan Lokal Aplikasi Penelitian dan Praktik.
BalasHapus