Rabu, 04 April 2018

Analisis Kasus Menggunakan Teori-Teori Public Relations



Studi Kasus 1
Badrun adalah mahasiswa komunikasi UB yang sedang magang di Hotel Savanah Malang. Badrun mendapat tugas dari Manajer PR HS untuk membuat klipping opini pembaca yang dimuat di surat kabar selama 3 bulan. Ia bertanya-tanya sebenarnya apakah tujuan dari kegiatan tersebut, gunakan argumen yang disertai  landasan teoritis.
Uraian
            Fenomena yang dialami Badrun dapat dianalisis menggunakan kajian teori Public Relations yakni teori Agenda Building Information Subsidies. Teori ini merupakan serapan dari teori komunikasi massa yakni teori Agenda Setting. Merupakan teori yang menyatakan bahwa media massa memiliki power untuk menentukan kebenaran. Dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa.
Media memang memiliki dua power yang sangat besar, yakni kuasa untuk mempengaruhi publik dan kuasa sebagai gatekeeper yang bermakna sebagai framing serta penyeleksi apa yang hendak diberitakan (Kriyantono, 2014, h. 326). Hal ini bermakna bahwa masyarakat cenderung menilai sesuatu penting, sebagaimana media massa menganggap hal tersebut penting. Sebaliknya, jika isu tersebut tidak dianggap penting oleh media massa, maka isu tersebut juga menjadi tidak penting bagi diri masyarakat, bahkan menjadi tidak terlihat sama sekali. Itu merupakan makna dari teori Agenda Setting yang kami singgung sedikit.
Teori Agenda Building Information Subsidies dalam Teori Agenda Building Information subsidies memiliki 2 level (Kriyantono, 2014, h. 328) , yakni :
·         Amati isu yang dianggap penting, lihat apa yang terjadi dan fokus menjadi pemberitaan media dalam kurun waktu tertentu. Lakukan fokus pada bagian opini pembaca untuk melihat isu publik yang sedang berkembang di masyarakat.
·         Lalu lihat bagaimana media melakukan framing.
Anda bisa melakukan analisa pada praktik teori PR ini dengan melakukan klipping dengan mengamati beragam isu yang sedang diberitakan oleh media. Hal ini sesuai dengan kegiatan yang dilakukan oleh Badrun. Dengan melakukan pengamatan dalam kurun waktu tertentu, semisal 3 bulan. Dengan mengumpulkan klippping opini pembaca, maka kita dapat menyimpulkan isu apa yang tengah menjadi sorotan media dan menjadi opini publik.
Selanjutnya sebagai seorang praktisi PR, gunakan fokus bahasan media berdasarkan opini pembaca tersebut menjadi beragam kegiatan PR yang menarik. Dengan begitu kegiatan–kegiatan tersebut akan lebih mudah diterima dan mendapat perhatian publik, Karena sesuai dengan prioritas dan fokus publik. Bentuk aktivitas PR tersebut bisa dalam bentuk yang beragam sesuai kebutuhan publik. Salah-satunya, semisal isu Banjir. Praktisi PR bisa mencanangkan kegiatan pengerukan sungai dan reboisasi lewat penanaman seribu pohon. Hal tersebt akan lebih mudah untuk diterima masyarakat karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat lewat fokus isu yang diberitakan media.
Disini peran teori Agenda Building Information Subsidies adalah fokus pemberitaan media dalam kurun waktu tertentu menjadi fokus praktisi PR dalam menciptaan aktivitas PR yang sesuai dengan kebutuhan publik. Hal ini juga berangkat dari fungsi PR sebagai jurnalist in residence yaitu mampu memberikan informasi pula kepada publik berdasarkan isu yang berkembang di ranah publik. PR tidak sekedar mengeluarkan press release namun Pr juga harus rajin membaca dan melakukan pengamatan.
PR dalam setiap kegiatannya menciptakan kerja sama berdasarkan relasi baik dengan publiknya secara kontinu ditumbuhkembangkan. Publik yang dimaksud di dalam PR adalah kelompok atau public yang terkait dalam pelaksanaan fungsi PR itu. Sebagai seorang praktisi PR akan sesuai apabila memetakan program – program CSR nya menyesuaikan isu yang berkembang. Dengan begitu akan mudah diterima oleh publik dan banyak mendapat perhatian publik. Kembali lagi, Badrun diberi tugas tersebut supaya ia mengamati isu apa yang menjadi perhatian media, lalu disalurkan melalui aktivitas PR untuk masyarakat. Supaya program yang dilaksanakan sesuai dengan masalah dan diterima masyarakat dengan baik.
                         



Studi Kasus 2
            Seorang wartawan melakukan wawancara dengan Humas UB tentang suatu kebijakan tentang pelarangan mahasiswa merokok di areal kampus. Saat Humas ditanya wartawan, Ia menjawab bahwa ia belum mampu memberikan klarifikasi sebelum adanya ijin dari pimpinan.
Uraian
            Fenomena tersebut dapat dianalisis menggunakan teori Uncertainly Reduction yang dicetuskan oleh Berger dan Richard Calabrase di tahun 1975. Fungsi dari komunikasi adalah untuk mengurangi keragu-raguan. Makna dari informasi adalah sebagai alat yang mampu mengurangi ketidakpastian pada situasi tertentu.
            Disini, peran dari praktisi PR adalah sebagai agen yang mampu memberikan informasi kepada khalayak. Ia dituntut harus memahamim suatu permasalahan lebih awal dan mendalam. Jangan sampai terjadi salah informasi. Karena informasi yang akan ia berikan akan dianggap berita oleh khalayak. Makna dari berita itu sendiri adalah informasi yang sudah tentu benar.
            Seorang praktisi PR dituntut harus memahami suatu kasus, lalu melakukan analisa. Ia harus mampu memprediksiskan kemungkinan yang respon publik dan apa yang akan terjadi. Ia dituntut memahami orang lain berkaca melalui diri anda, membuat prediksi tentang perilaku orang lain, lalu menjelaskannya. (Kriyantono, 2014, h. 140).
            Melalui sikap yang dicerminkan oleh Humas UB saat ditanya oleh wartawan, hal tersebut sangat tidak efektif dilihat dari segi publisitas media. Dikhawatirkan media akan mengarang berita yang tidak sebenarnya karena Humas tidak mamberikan informasi yang cukup pada awak wartawan.  Sikap Humas tersebut sangatlah tidak mencerminkan posisi dari praktisi PR sebagai jurnalist in residence. Seharusnya ia memberikan kecukupan informasi yang dibutuhkan oleh media, ia dituntut untuk memahami kasus lebih awal sehingga mampu membuat prediksi sikap yang menjadi respons publik selanjutnya. Hal tersebut berdasarkan analisa teori ini maka peran dari Praktisi Humas UB ini dirasa sangat kurang efektif dan tidak mencerminkan peran praktisi PR yang sesungguhnya.


Studi Kasus 3
            Marmud adalah karyawan PT Makmur Sekali, ia dikenal sebagai pribadi yang berprestasi dan gigih. Ia mampu menarik konsumen secara cepat karena kemampuannya. Namun, disisi lain ia dikenal sebagai pembuat onar, dia sering membolos, bertengkar dengan rekan kerja dan lebih suka bekerja sendiri.
Analisis
            Pada fenomena ini, kita dapat menggunakan teori the mathematical information. Teori ini diungkapkan oleh Shannon & Weafer di tahun 1964. Mereka menganggap bahwa komunikasi merupakan suatu proses transmisi. Proses transimisi yang menyalurkan informasi dari satu titik ke titik lainnya. Pada proses ini selamanya tidak selalu lancar, akan selalu ada noise yang terjadi didalamnya. Noise inilah yang akhirnya menciptakan gangguan persepsi akibat informasi yang diterima komunikan secara tidak sempurna. Noise ini dapat berupa noise, mekanik, sementik, environment dan lain-lain.
Teori ini memiliki 3 level (Kriyantono, 2014, h. 134), yakni :
1.      Seberapa akurat simbol komunikasi dapat dttransmisikan
2.      Setepat apa simbol menyampaikan makna yang diinginkan komunikator
3.      Seberapa ekektif makna yang diterima mempengaruhi komunikan seperti yang diinginkan komunikator
Melihat kasus yang terjadi pada Marmud adalah kasus noise, seorang praktisi PR diposisikan orang yang mampu memahami alur pikiran dari Marmud. Marmud adalah contoh orang yang memiliki potensi namun kurang sesuai dengan kondisi lingkungan. Kondisi lingkungan inilah yang menjadi noise dan harus dilihat apa yang kurang sesuai. Berdasarkan alur transmisi liniernya dapat dilihat dan dikoreki mana bagian yang dianggap noise dan kurang sesuai.




Studi Kasus
PT HS adalah perusahaan yang besar hyang bergerak dibidang asuransi jiwa, lalu mendadak ia kalah dengan PT BS disampingnya yang bergerak dibidang catering, PT BS seringkali mendapat liputan media.
Analisis
            Fenomena ini dapat dianalisis menggunakan teori relationship management yakni teori upaya menjaga relasi. Melihat fenomena ini harus dilihat terlebih dahulu, apakah praktisi PR mampu melakukan komunikasi yang efektif sehingga mampu menjalin relasi yang baik dengan media. Sehingga media mau meliputnya.

1 komentar:

  1. analisis ini dubuat berdasarkan tugas UTS Mata Kuliah Teori-teori PR dengan menggunakan buku Teori-Teori Public Relations Prespektif Barat dan Lokal Aplikasi Penelitian dan Praktik.

    BalasHapus