Selasa, 28 Maret 2017

Kedaulatan Frekuensi



BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Perkembangan media yang semakin pesat telah mengubah pola – pola kehidupan masayarakat yang semakin kaya akan informasi.Informasi kini didapat dengan mudahnya melalui beragam media cetak maupun elektronik.Pola masayarakat seiring berkembangnya waktu bergeser menjadi masyarakat yang dimudahkan dengan teknologi elektronik.Informasi bertebaran dimanapun, hingga sering kita terlibat perang komentar terhadap berita yang terkadang hanya hoax dan memicu pertengkaran.
Disinilah peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bertugas, selain bertugas mengawasi isi siaran, melayani pengaduan masyarakat terhadap isi siaran dan dalam rangka menjaga martabat dunia penyiaran Indonesia itu sendiri.Memang miris melihat dunia pertelevisian yang kebanyakan mengejar rating, namun kurang memberi konten yang yang edukatif terhadap masyarakat.
Bukan masyarakat kita yang tidak bisa memilih konten yang pas, namun yang sifatnya benar – benar edukatif memang sedikit sekali.Tentu hal ini sangat berdampak bagi anak – anak yang menonton televisi tanpa bimbingan orang tua.Disinilah peran KPI cukup penting dan sangat berkontribusi.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana kriteria dari dunia penyiaran yang bermartabat ?
2.      Apa yang dimaksud kriteria kewaspadaan dan peningkatan taraf hidup dalam dunia penyiaran ?
3.      Apa saja kriteria acara televisi yang mencerdaskan ?
4.      Bagaimana penjelasan mengenai problematika keriuhan media ?
5.      Apa saja dimensi dan etika penyiaran ?
6.      Apa keterkaitan antara KPI dan lembaga penyiaran ?

1.3 Tujuan
1.      Mengetahui kriteria dari dunia penyiaran yang bermartabat
7.      Mengetahui kriteria kewaspadaan dan peningkatan taraf hidup dalam dunia penyiaran ?
2.      Apa saja kriteria acara televisi yang mencerdaskan
3.      Memahami berbagai acara televisi yang mencerdaskan
4.      Mengetahui fenomena tentang problematika keriuhan pada media
5.      Mengetahui maksud dimensi dan etika penyiaran
6.      Memahami keterkaitan antara KPI dan lembaga penyiaran
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Dunia Penyiaran yang Bermartabat
Kita tentu sering mendengar tentang beberapa acara televisi yang diminta untuk tidak tayang terlebih dahulu leh KPI,Pernahkah kita bertanya apa alasannya? Ada beberapa alasan yang mendasari KPI melakukan hal tersebut.Diantaranya bisa jadi program tersebut dinilai meresahkan masyarakat, atau adanya pihak masyarakat yang mengadukan terhadap acara televisi yang tayang.Peran KPI tidaklah sesederhana yang kita tahu,tujuan KPI dalam memberikan sanksi teguran adalah demi merekonstruksi kembali kemandekan – kemandekan yang terkait dengan kebijakan penyiaran yang berdampak pada munculnya tayangan yang buruk.Dalam konteks bisnis, hal ino menjadi sanagt penting karena termasuk kebutuhan pelayanan publik.Dalam konteks keindonesiaan jika kebijakan yang diterapkan keliru, maka akan berdamapak pada masyarakat yang tidak mendapat ruang untuk mengakses informasi yang bersifat edukatif.
KPI amat peduli kepada publik karena frekuensi memang milik publik.Seluruh wilayah layanan di Indonesia secara geografis digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi.Akan tetapi, karena masih lemahnya regulasi penyiaran, kebutuhan masyarakat akan informasi sering dijustifikasi sebagai kebutuhan bisnis.Penyiaran yang sehat dan cerdas telah diatur dalam undang – undang nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran (Pasal 1 ayat 10) secara tegas menyuratkan sistem penyiaran nasional dan tatanan penyelenggaraan penyiaran nasional diatur berdasarkan ketentuan perundang – undangan yang berlaku demi tercapainya asas, tujuan, fungsi, dan arah penyiaran nasional sebagai upaya mewujudkan cita – cita nasional, sebagaimana digariskan di dalam Pancasila dan UUD 1945. Kehadiran teknologi merupakan hal yang tidak bisa dihindari oleh manusia.Manusia hampir selalu dikelilingi oleh teknologi dalam setiap geraknya kehidupannya.Hal tersebut menarik perhatian pemikir berkebangsaan Kanada, Marshall McLuhan melalui bukunya Understanding Media (1964) ia menulis mengenai pengaruh teknologi.Menurutnya, teknologi media telah menciptakan revoplusi media di tengah masyarakat.Hal tersebut dikarenakan masyarakat sudah sangat bergantung terhadap media dan tatanan masyarakat terbentuk berdasarkan pada kemampuanm masyarakat menggunakan teknologi.McLuhan menggambarkan teknologi elektronik sebagai berikut :
·         Telepon           : berbicara tanpa dinding
·         Fotografi          : museum tanpa dinding
·         Cahaya                        : ruang tanpa dinding
·         Film, Radio, dan TV : ruang kelas tanpa dinding
·         Phonograph (alat pemutar lagu)           :gedung pertunjukan musik tanpa dinding
Menurutnya, Soluran komunikasi memiliki kekuatan dan memberikan pengaruh terhadap masyarakat.Karena media adalah pesan.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beruntung karena sajian penyiaranpenyiarannya diselelaraskan dengan kebutuhan masyarakat dan budaya bangsa.Kita sebagai penikmat media dapat mengamati media yang bersifat siklus, apabila peringatan hari Pahlawan maka media akan meliput hal tersebut, dan contoh selainnya.Insan penyiaran Indonesia adalah insan yang berkesadaran tinggi dalam menjaga dan meningkatkan moralitas,nilai – nilai religi, sertajati diri bangsa.Melalui bahasa yang maha luas, melalui kecerdasan bahasanya, insan penyiaran Indonesia adalah individu – individu yang berperilaku etis terhadap berbahasa sehingga, tidak menyinggung perasaan suku, agama, dan ras yang beragam di bumi pertiwi.
1.2 Kewaspadaan dan Peningkatan Taraf Hidup
            Insan penyiaran secara berwaspada harus memberikan nformasi dan mpotivasi secara lengkap dan utuh kepada masyarakat.Pasalnya, masyarakat berhak memilih sendiri siaran yang disukainya, untuk kemudia diselaraskan dengan kesejahteraan hidupnya.Selain itu, insan penyiaran juga harus mapu berpikir, berkata dan bertindak yang efeknya berada diatas kepentingan semua golongan.Dalam rangka menjaga dan mempererat persatuan bangsa.Apapun yang hendak ditayangkan hendaknya tontonan yang memberikan semanagat moral bangsa, karena fungsi televisi sendiri sebagai sarana edukasi masyarakat.
            Menayangkan informasi prihal disiplin dan taat hukum, misalnya adalah salah satu bukti kewaspadaan insan penyiaran Indonesia dalam peran sertanya meningkatkan disiplin nasionalndalam segala hal.Termasuk dalam hal ini adalah upaya insan penyiaran dalam memberikan edukasi atau motivasi tentang penyaluran pendapat umum yang santun yang berpegang teguh pada musyawarah dan kekeluargaan misalnya, melalui penayangan pemilihan ketua suku.Tidak ketinggalan adalah peran aktif insan penyiaran dalam upaya pelestarian lingkungan karena memang amat penting bagi kehidupan generasi selanjutnya.
            Ketika burung berkicau, koita bisa jadi memperhatikan dan mendengarkannya.Sebelumnya mungkin kita hanya meremehkan objeknya, akan tetapi apabila ada dua burung yang saling berkicau, aku harus benar – benar memperhatikan, mendengarkan dan mempelajarinya.(Times & Times, 2017b)Kita dapat mengklasifikasikan dalam BBC tayangannya dalam tiga hal, yakni : konser, opera dan dokumenter.Dari ketiga hal tersebut tayangan yang paling populer adalah dokumenter.Dikarenakan pertunjukan konser ataupun opera akan lebih terlihat nyata apabila ditonton lewat pertunjukan nyata(Times & Times, 2017a) .BBC juga mengklaim bahwa penayangan siaran yang berbau agama akan menjadi penjembatan antara organisasi yang bergerak dibidang keagamaan dengan orang – orang yang haus akan agama (Kane, 2017).Televisi bisa dikatakan pencerminan dari segala aktifitas sosial lewat iklan – iklannya (Gill & Gill, 2017).Para penyiar haruslah memiliki cara  penanaman nilai yang berbeda karena dirinya kecil dan murah namun berjuang dalam kelas yang besar (Bryson, 2017).

1.2.1 Program Siaran yang Mencerdaskan
            Membangun dunia siaran yang bermartabat tak semudah membalikkan telapak tangan.Televisi telah menjadi media yang dominana sehingga industri pertelevisian menjadi paling populer.Mengingat para pemirsanya menghabiskan waktu 5-6 jam sehari dengan jumlah penonton 94 persen.Sejak tahun 2000-an persada Indonesia telah diramaikan oleh kehadiran lima grup besarstasiun televisi , yakni MNC TV, Trans, Emtek, Bakrie, dan Metro TV.Sementara itu,keberadaan media cetak semakin tergeserdengan keberadaan new media. Broadcasting adalah pemancaran progam televisi,proses pengirirman sinyal ke berbagai lokasi secara bersamaan,baik melalui satelit, radio, televisis, maupun melalui komunikasi data pada jaringan dan sebagainya.(Kamus Istilah Pertelevisian karangan Leli Achlina & Purnama Suwardi,2011,h.27)
Studi komunikasi adalah studi tentang makna dalam sirkulasi sosialnya.Analisis tekstual merupakan hal yang sangat penting bagi studi komunikasi.komunikasi bukanlah subyek, dalam arti kata akdemis kata tersebut, melainkan sebuah bidang multidisiplin.Pandangan ini akan memunculkan pandangan lain bahwa apa yang dikatakan oleh para psikolog dan sosiolog mengenai perilaku komunikasi manusia tidak berhubungan dengan apa yang dikatakan kritikus sastra.
            Lalu, apa sesungguhnya tontonan yang mencerdaskan bangsa ?menurut Henny Supolo, pengamat pendidikan, adalah tontonan yang inspiratif karena hadirnya seluruh kekuatan yang dimiliki bangsa ini.Tontonan yang yang yang benar – benar punya komitmen moral.Cobalah ingat kembali mengenai penayangan prihal wafatnya ustaz gaul Jefri al- Bukhori, seyogyanya, stasiun televisi dapat mendengarkan suara hatinya.Apakah ia wajib untuk menayangkan peristiwa duka itu secara berturut – turut atau tidak.Tayangan itu mungkin enak dan bermanfaat, namun apakah pihak stasiun televisi itu mau bertanggung jawab mengenai dampak etis berkenaan kehidupan eluarga ustaz mengingat hampir setiap hari mereka ditampilkan oleh stasiun televisi.Tidakkah kita boleh percaya bahwa sisi – sisi kehidupan mereka yang awalnya pribadi menjadi konsumsi publik serta- merta? Kita boleh yakin, stasiun TV tersebut hanya berpikirpenayangan itu akan mendongkrak rating sehingga dapat sekaligus menagkap iklan besar.Patut untuk direnungi, akal sehat belum tentu lebih perkasa dari suara hati, mengingat akal sehat cenderung berangkat dari generalisasi yang bersifat subjektif, emosional dan biasanya dipenuhi pleh prasangka.
Media penyiaran ibarat cermin yang merefleksikan berbagaiperistiwa yang terjadi diu dunia . Dengan begitu patit dipertanyakan secara etis mengapa lembaga penyiaran sering merasa tidak bersalah ketika menayangkan tontonan yang penuh kekerasan dengan kekerasan , konflik, pornografi dan berbagai hal buruk yang berkenaan dengan moral.Padahal jika melihat pendapat McQuail, media penyiaran hanayalah merefleksikan fakta.Artinya secar profesional media penyiaran dapat membingkai fakta yang mentah menjadi berguna bagi moral bangsa.Apalagi sudah diketahui pemirsa tidak sepenuhnya bebas untuk menetapkan apa yang sesungguhnya merekainginkan.
            Media penyiaran merupaka filter yang menyeleksi berbagai fenomena yang layak mendapat perhatian pada standar penyiaran yang ditetapkan oleh KPI dalam memilih isu, informasi dan format isi penyiaran.Terkait kode etik jurnalistik sudah seharusnya wartawan menyajikan berita yang berimbang dan secara berimbang dan adil mengutamakn kecermatan dari kecepatan.
            Media penyiaran sebagai [penunjuk jalan yang bertugas u tuk menunjukkan arah yang benar kepada pemirsanya atas berbagai ketidakpastian, alternatif dan keberagaman informasi.Media penyiaran juga dpat dikatakan sebagai untuk mempresentasikan ide – ide pemirsanya sehingga diharapkan adanya umpan balik.
            Bila mau jujur, media massa kinimemang sedang menghadapi masalah bera.Betapa tidak, walau kebebasan pers dewasa ini amat bisa dirasakan, pembentukan karakter yang merupakan misi pembentukan media massa itu sendiri terbentur oleh pergerakan media oleh pasar.Dalam ungkapan lain,praktik pemberitaan atau penyiaran televisian kita cenderung tidak lagi diwarnai oleh idealisme jurnalistik atau nilai – nilai luhur bangsa akan tetapi. Telah dilumuri oleh seberapa jauh tayangan tersebut bisa dijual di pasar dengan berpedoman pada rating.Oleh karena itu, sebagai sarana berlalu lalangnya informasi sudah seharusnya, media adalah alat komunikasi interaktif antara penonton dan insan media yang bermanfaat bagi kecerdasan bangsa.

1.2.2 Dimensi Etika Penyiaran
            Pemahaman tentang etika penyiaranIndonesia juga harus dipertalikan dengan kode etik lembaga penyiaran Indonesia.Seperti halnya kode etik profesi lainnya, kode etik penyiaran diharapkan dapat mengatur perilaku moral anggota suat lembaga penyiaran.Harapan ini tebtu bukan hareapan berlebihan karea kode etik ini penyiaran dirumuskan secar tertulis oleh para anggota lembaga penyiaran berdasarkan cita – cita dan ilai – nilai yang hidup dikalangan itu sendirir.Berkenaan dengan informasi yang relevan dan sesuai, pada hakikatnya fakta atau realitas itu sendiri adalah kenyataan semu yang telah terbentuk oleh oleh proses kekuatan sosial , budaya, politik dn ekonomi.Semisal contoh tayangan seseorang yang awalnya tidak terkenal , akan tetapi mendadak terkenal karena menjadi istri koruptor , berarti pemorsa telah dibentuk secara paksa oleh media penyiaran tentang seseorang yang patut ditayangkan sehingga muncul;lah kenyataan semu bahwa seseorang itu memang patut ditayangkan berulang – ulang dan terus menerus.
1.2.3 Keriuhan yang Membingungkan
Pada masa lalum ketika dunia pertelevisian kita hanya diisi oleh TVRI anak – anak dan remaja hanya mendapat hiburan dari si tokoh boneka si Unyil.Kini, seiring perkembangan zaman, ketika bermunculan siaran TV swasta ,anak – anak dan remaja kita mulai kebingungan dengan pilihan tontonan mereka, alias keriuhan yang membingungkan.Wahyuni menggambarkan dengan tersedianya berbagai progam acara yang makin beragam membuat para pemirsaya rela menghabiskan waktu 5-6 jam hanya untuk menikmati acara televisi tersebut dengan dominasi penonton 94 persen, luar biasa bukan?
Televisi adalah bagian dari prakondisi dan konstruksi selektif pengetahuan sosial yang kita buat untuk membuat prespeksi dunia realitas kehidupan orang lain, dan secara imajiner merekonstruksi hidup kita sehingga menurut Barker menjadi semacam keseluruhan dunia.Jika dari segi budaya Indonesia memiliki modal besar dalam industri televisi.Keragaman  budaya dan sosial masyarakat Indonesia contohnya, sebenarnya menjadi bahan baku yang tak pernah basi menjadi bahan rekonstruksi menjadi teks – teks buadaya baru di televisi.
Era digitalisasi yang bisa dimaknai sebagai cerminan era globalisasi, memang membutuhkan tingkat kecermatan sendiri .Selain penyajian program siaran yang berkualitas , infrastruktur yang memadai, juga diperlukana peran pemerintah dalam menduykung industri kreatif supaya para insan dunia penyaiaran mampu berkompetisi secara global.Duia perteleviian Indonesia memang bisa dikatakan belum mengacu pada kepentingan publik.Semangat ini meminjam meminjam pendapat Barker ebenarnya menghinggapi hampir seluruh pertelevisian dunia.Akar semangat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
·         Karena adanya penyiaran publik dan penyiaran komersial secara bersamaan
·         Karena makin banyaknya perusahaan multimedia transnasional
·         Karena adanya deregulasi penyiaran komersial
·         Karena tekanan terhadap televisi pelayanan publik untuk bekerja secara logika komersial

  Sebagaimana telah disinggung dalam pembahasan sebelumnya, penyiaran pada dasarnya merupakan suatu tata permainan bahasa tersendiri yang berbeda dari tata permainan bhasa lainnya, yang oleh karena itu memilikinilai – nilai, batas – batas, dan aturan – aturan yang harus dipatuhi oleh oleh pelaku industri penyiaran.Sudah hakikatnya bahwa bahasamemiliki dimensi empiris dan sekaligus non empiris yang berupa nilai.Dengan begitu, setiap produk siaran mengandung suaru putusan moral yang memiliki dua dimensi tersebut.

1.2.4 KPI dan Kompetisi Industri Penyiaran
Sebagai lembaga indepnden negara yang yang bertugas mengawasi regulasi penyiaran di Indonesia.KPI mempunyai peran sentral dalam mengantisipasi persainagn di Industri penyiaran.Pengawasan ini dalam hal mengawasi strategi kelayakan isi berita dan strategi yang dilancarkan oleh lembaga penyiaran itu sendiri.Pada dasarnya, di dalam bisnis penyiaran tercakup berbagi kepentingan masyarakat dalam memperoleh informasi.Oleh karena itu orientasi tugas KP[I memang seharusnya dalam rangka memnuhi kebutuhgan publik.Kebutuhan ini adalah kebutuhgan yang tidak bisa ditawar – tawar lagi mengingat uu nomor 32 tahun 2002 masih lemah dalam hal – hal berikut :
·         Belum membahas antisipasi perpimdaham sistem analog ke digital,padahal pada saat ini hampir semua perangkat pendukung menggunakan teknologi digital.
·         Belum menjelaskan dan mengaskan aturan tata cara baimana media dapat berkonvergensi dengan tekniologi komunikasi yang memungkinkan adnay feedback dan partisipasi langsung.
·         Belum mengakui bahwa konvergensi di dunia media massa menwarkan dan melakukan semua yang belum bisa dilakukan media konvensional.

BAB III
KESIMPULAN
         Dalam dunia pertelevisian tentu tak akan dapat berjalan sendiri, perlu adanya pengawas dalam proses berjalannya.Disinilah peran dari lembaga KPI sebagai pengawas dan lembaga pengaduan masyarakat. Sehingga tujuan dari televisi dapat tercipta yakni mencerdaskan masyarakat.Karena mendapat informasi merupakan hak setiap individu.Sudah menjadi tugas bersama bahwa tayangan yang baik tentu akan membawa dampak yang baik pula bagi suatu bangsa.Oleh karena itu kita sebagai penonton tidak hanya menjadi penonton namun pengawas dalam jalannya.


DAFTAR PUSTAKA
Komunikasi Penyiaran Indonesia Pusat,Kedaulatan Frekuensi Regulasi Penyiaran, Peran KPI Dan  Konverensi Media,
Fiske, John (1990) Pengantar Ilmu Komunikasi, Jogjakarta : Buku Litera
Morisson (2013) Teori Komunikasi Individu Hingga Masa, Jakarta : Kencana
Bryson, L. (2017). Broadcasting, 17(2), 221–224.
Gill, A., & Gill, A. (2017). Broadcasting, 30(9), 585–588.
Kane, W. (2017). The Furrow, 4(8), 450–453.
Times, M., & Times, T. M. (2017a). Broadcasting Source : The Musical Times , Vol . 103 , No . 1431 ( May , 1962 ), p . 324 Published by : Musical Times Publications Ltd . Stable URL : http://www.jstor.org/stable/948806, 103(1431).
Times, M., & Times, T. M. (2017b). Broadcasting Source : The Musical Times , Vol . 105 , No . 1452 ( Feb ., 1964 ), p . 126 Published by : Musical Times Publications Ltd . Stable URL : http://www.jstor.org/stable/951244, 105(1452), 126–127.





Komunikasi Korporat dan Pembagian Stakeholder



Deskripsi
            Dalam sebuah kesatuan sebuah korporasi atau perusahaan yang nyata, dengan realitas yang ada didalamnya, dalam sebuah susunan rekaan yang tidak sederhana dan tidak hanya untuk sebagian orang saja, tetapi mereka percaya pada sebuah korporasi lebih dari seorang pengacara yang memegang saham.Itulah yang dinamakan stakeholders theory(Donaldson & Preston, 2017).
Korporat (perusahaan)
Komunikasi adalah "suatu proses dalam mana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain".[1]. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak.(Rubent Brent D dan Lea P stewart.2006. Communication and human behavior.United States)
Komunikasi korporat adalah segala hal yang mempelajari tentang pengelolaan hubungan masyarakat yang strategis dengan memanfaatkan beberapa kanal media, relasi investor, media, komunitas, stakeholder, shareholder, tata kelola perusahaan yang baik, komunikasi merk perusahaan, kampanye korporat, pengelolaan media internal, korporat event, pengelolaan csr, penguasaan metodologi penelitian untuk pengukuran dan citra perusahaan.(Kriyantono, R. public relations writing teknik produksi, media public relations, publisitas korporat.2008.Jakarta : Kencana)
Menurut Rhenald Kasali (2005) dalam bukunya Manajemen Public Relations, memberi definisi bahwa stakeholders adalah setiap kelompok yang berada didalam maupun di luar perusahaan yang memiliki peran dalam menentukan perusahaan.Bisa diartikan pula orang yang mempertaruhkan hidupnya untuk perusahaan.Terdiri atas beberapa kelompok penekan (pressure group) yang harus dipertimbangkan perusahaan.
Stakeholders dalam suatu perusahaan ada beragam (Syarifuddin  dan Suryanto.2016. Public Relations .Yogyakarta : Andi h.101), antara lain :
Berdasarkan Letaknya
·         Internal
Berarti publiknya berada di dalam lembaga, disini makna dari publik adalah khalayak atau masyarakat umum yang melakukan komunikasi dengan suatu organisasi baik secara eksternal maupun internal.Misalnya : karyawan, manajer, pemegang saham, dan lain – lain. (Kasali, 2005)
·         Eksternal
Berarti publiknya adalah mereka yang berkepentingan namun berada di luar lembaga. Misalnya :penyalur, pemasok, bank, pemerintah, komunitas, pers, konsumen, dan sebagainya.
Berdasarkan kepentingannya
·         Primer
Setiap organisasi tentu perlu menyusun kerangka prioritas, nah yang paling penting disebut publik primer.
·         Sekunder
Tingkatan di bawah primer atau kurang penting.
·         Marginal
Publik yang sama sekali jauh dari sasaran kerja.
Berdasarkan type
·         Tradisional
Meliputi : karyawan dan konsumen
·         Masa depan
Meliputi : mahasiswa, peneliti, konsumen potensial, pejabat pemerintah, dsb
Berdasarkan Aktivitasnya
·         Silent Majority
Dilihat dari mengkomplain atau memberikan dukungan terhadap suatu organisasi.
Silent majority disini dianggap sebagai publik yang pasif  sehingga suara dan pendapatnya tidak terlihat.contoh : publik pembaca surat kabar.
·         Vocal Minority
Publik penulis di surat kabar, mereka aktif menyuarakan pendapat di surat kabar dan berbagai media lainnya.Namun, jumlahnya terbatas.
Berdasarkan pro dan kontra
·         Opponents
Dalam suatu organisasi tentu ada yang pro ataupun kontra dan kesemuanya harus diperhatikan tak boleh diabaikan.Opponent disini berarti publik yang menentang.
·         Proponents
Publik yang memihak atau pro
·         Uncommited
Publik yang tidak peduli
Selain itu dalam stakeholders ada bebrapa kelompok yang harus dipahami, diantaranya :
1.      Kelompok media
Terdiri dari jurnalis, pengusaha media dan organisasi yang mewadahi.Mereka bertugas : Menyediakan informasi, mengadakan konferensi pers, mengatur kunjungan pers, dll
2.      Kelompok internal
Orang – orang yang terlibat langsung dengan kehidupan organisasi.Prinsip utamanya adalah demi kelancaran arus informasi dan komunikasi, menjalin hubungan baik dengan karyawan, menyelenggarakan program yang dapat meningkatkan ikatan bersama, dll
3.      Kelompok Komunitas
Masyarakat sekitar dimana organisasi itu berada.Prinsipnya pengembangan komunitas adalah mewujudkan tanggung  jawab sosial atau corporate social responsibility.Dengan melakukan dukungan terhadap masyarakat, membuat program pendampingan, aktif dalam pemberian penghargaan, dll.
4.      Kelompok lembaga pemerintah
Terdiri atas pemerintah, BUMN,TNI, Polri,dll prinsip pengembangan ini adalah sinergi antara dan keterpaduan arus informasi.Dengan menjalin hubungan baik antara birokrat dan politik, mengamati kebijakan pemerintah, dll
5.      Kelompok Khusus
Merupakan  LSM atau non goverment organisation, lembaga pemantau, komunitas finansial, investor dll.Prinsipnya adalah kepekaan mengenai maslaah bersama.Dengan menganalisis kemungkinana terjadinya perubahan dan dampaknya, dll

Jefkins (2003) memaparkan alasan perusahaan perlu memahami tentang stakeholders adalah  untuk mengidentifikasi stakeholder yang sesuai denagn arah organisasi, untuk menciptakan skala prioritas, untuk menyiapakan pesan yang efektif.

Daftar Pustaka

Syarifuddin  dan Suryanto.2016. Public Relations .Yogyakarta : Andi

Kriyantono, R. public relations writing teknik produksi, media public relations, publisitas korporat.2008.Jakarta : Kencana


Donaldson, T., & Preston, L. E. E. E. (2017). The Stakeholder Theory of the Corporation : Concepts , Evidence , and Implications Author ( s ): Thomas Donaldson and Lee E . Preston Source : The Academy of Management Review , Vol . 20 , No . 1 ( Jan ., 1995 ), pp . 65-91 Published by : Academy of Management Stable URL : http://www.jstor.org/stable/258887 REFERENCES Linked references are available on JSTOR for this article : You may need to log in to JSTOR to access the linked references . Academy of Management is collaborating with JSTOR to digitize , preserve and extend access to The THE STAKEHOLDER THEORY OF THE, 20(1), 65–91.