Kamis, 05 April 2018

UTS TEORI - TEORI PUBLIC RELATIONS (DISKUSI KASUS)


Nama   : Yunita Ike Widyani
NIM    : 165120218113010
KASUS 1
Di dalam kasus yang pertama saya akan membantu Badrun menjawab menggunakan teori-teori Public Relations. Tidak dapat dapat di pungkiri bahwa media mempunyai pengaruh besar dalam membentuk opini publik sekaligus dapat meningkatkan citra organisasi di mata publik nya. Dengan kelebihan yang dimiliki berupa kecepatan dalam menyampaikan informasi serta memiliki jangkauan yang luas. Public Relation sebagai Boundary Spanning mempunyai fungsi sebagai penghubung antara organisasi dengan publik nya. Tugas Badrun sebagai staf magang melakukan monitoring pemberitaan surat kabar, membuat kliping opini pembaca dan menganalisis berita – berita surat kabar di rubrik seputar malang merupakan salah satu kegiatan penting praktisi Public Relation. Dalam kegiatan ini terdapat teori Public Relation yaitu media monitoring yang di aplikasikan badrun.
Teori media monitoring adalah yakni mencari, mengumpulkan, dan menganalisa berita-berita yang berkaitan dengan perusahaan di media massa. Kemudian, infomasi tersebut dapat diteruskan kepada puncak manajemen dalam bentuk usulan atau rekomendasi untuk dijadikan penilaian obyektif dalam pengambilan keputusan.
 dari kegiatan yang dilakukan Badrun membuat kliping opini pembaca yang dimuat surat kabar adalah untuk mengetahui apakah ada tamu hotel yang complain dengan pelayanan di Hotel Savanah yang dimasukan ke opini pembaca melalui media.jika ada, sudah menjadi tugas praktisi Public Relation untuk menganalisis kejadian dan menyelesaikan keluhan dari pelanggan tersebut dan memuat berita jawaban permintaan maaf jika memang kesalahan berasal dari manajemen internal hotel kepada tamu yang pernah menginap di Hotel Savanah atau membuat jawaban klarifikasi jika terjadi kesalah pahaman kepada ke surat kabar terkait yang memuat opini pembaca yang mengeluhkan pelayanan Hotel Savanah
Tujuan kedua dalam menganalisis berita – berita di surat kabar di rubrik seputar malang adalah untuk mengetahui kondisi keadaan malang dalam berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi dan sebagainya yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan keberadaan Hotel Savanah. Contoh jika pertumbuhan ekonomi di Malang semakin maju pesat, banyaknya turis yang berkunjung ke kota Malang, hal ini menjadi peluang bagi Hotel Savanah untuk mempromosikan serta meningkatkan pendapatan Hotel melalui promosi maupun event yang di buat oleh Hotel Savanah, informasi yang disajikan media merupakan informasi penting yang patut dipertimbangkan oleh pihak manajemen Hotel Savanah melalui Public Relation.
            Selain teori media monitoring yang dilakukan oleh Manager Hotel Savanah adalah uuntuk mengethui framing yang dilakukan oleh media terhadap reputasi hotel tersebut, Manager hotel tersebut ingin tahu sejauh mana media membuat framing terhadap hotel. Apakah media membuat framing yang baik ataukah framing yang buruk hal tersebut perlu dilakukan untuk mengevaluasi segala kegiatan yang dilakukan oleh hotel agar media berpihak kepada Hotel dan melakukan framing yang baik untuk citra Hotel Savanah.
            Kemudian setelah mengetahui framing media yang seharusnya dilakukan adalah memperbaiki hubungan baik dengan media (media relations). Di dalam menjalin relasi terhadap media ada teori dasar yang menjadi acuan dalam hal ini, yaitu Teori Agenda Setting. Di dalam teori ini mengatakan bahwa Media memiliki kekuatan besar untuk membuat opini public. Apa yang diberitakan media seolah –olah benar dan disetujui oleh publiknya. Opini- opini yang dibangun oleh media dapat memberikan pengaruh kepada publik, sehingga seorang public relation yang baik jika melihat teori ini harusnya menjalin relasi yang baik kepada media sehingga media akan  memberitakan berita-berita yang positif.
KASUS 2
Di dalam kasus yang kedua ini menceritakan tentang kebijakan baru yang dilakukan UB kepada seluruh mahasiswanya dilarang merokok diseluruh areal kampus UB. Hal ini mengundang perhatian media sehingga media ingin meliputnya, hal yang lazim ditanyakan oleh seorang wartawan adalah tentang kenapa kebijakan tersebut diberlakukan. Di dalam kasus ke 2 menyebutkan bahwa humas dari UB belum bisa memberikan jawaban sekarang, dan berkata harus meminta ijin terlebih dahulu terhadap pimpinan.
Menurut saya apa yang dilakukan humas UB yang tidak siap dengan pertanyaan wartawan tentang kebijaksanaan baru UB yang melarang mahasiswa merokok di areal kampus UB adalah tidak efektif karena seharusnya sebagai seorang humas kita selalu berkoordinasi dan ikut berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan dan selalu menggali informasi terhadap setiap kebijakan baru yang dikeluarkan oleh UB dalam uapaya untuk memahami dengan benar dalam rangka memberikan informasi atau berita kepada pihak internal dan eksternal kampus serta merencanakan bentuk sosialisasi yang efektif dan media yang tepat terhadap peraturan atau kebijakan baru tersebut.
Berdasarkan Teori Uncertainty Reduction : Menjaga Ketersediaan dan Kualitas Informasi diketahui bahwa publik harus dalam kondisi ketercukupan informasi (well-informed) tentang organisasi agar tidak terjadi pemahaman yang keliru terhadap organisasi tersebut. Artinya tidak ada kesenjangan informasi antara organisasi dan publiknya, dan sebaliknya.organisasi harus berupaya membantu publiknya mengurangi ketidakpastiandengan lebih terbuka memberikan informasi (seld-disclosure), karena itu public relations dituntut menjaga informasi agar berjalan dua arah timbal balik.
Dalam teori Excellence dijelaskan peran PR menyediakan saluran komunikasi dua arah timbal balik yang memungkinkan organisasi dan publik berbagi informasi dan menyampaikan gagasan. Agar peran ini berjalan baik, PR mesti mengkombinasikan peran sebagai teknisi dan manajer dengan baik. PR dapat memberikan masukan kepada manajer dan mengintegrasikan framework pengetahuan manajerial sehingga PR merupakan bagian dari koalisi dominan yang ikut dalam proses pengambilan keputusan dalam organisasi.
Dalam teori dan model informasi matematika, dalam petugas PR sebagai agen informasi perlu memperhatikan bagaimana menyediakan informasi yang berkualitas. Dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut : mampu memenuhi aspek kebutuhan informasi publik, dan informasi berkualitas jika berguna (useful), bernilai (valuable), faktual, dapat dipercaya (reliable), ketepatan (precision), dan kebenarannya (truth). Maka dari itu seharusnya humas dari UB menjawab pertanyaan humas dengan jujur dan tepat sehingga wartawan akan memberitakan berita yang sesuai dengan pernyataan yang diberikan humas serta masyarakat yang mendengar berita tersebut pun akan mendukung kebijakan yang dilakukan oleh universitas brawijaya
Jika dilihat dari fungsi humas, humas dari UB belum memberikan jawaban yang harusnya dijawab. Seorang humas yang baik harus mengetahui sebuah permasalahan yang ada di dalam organisasinya. Karena sesuai dengan fungsi humas yaitu : memberikan citra yang baik kepada publiknya, kepada stake holdernya, baik itu stake holder internal maupun stake holder eksternal. Hal ini sesuai denga teori stake holder. Bahwa seorang humas harus menjalin relasi yang baik terhadap stake holdernya, dan salah satu dari stake holder adalah wartawan. Jika yang terjadi seperti demikian menunjukkan bahwa humas UB tidak menjalin relasi yang baik dengan tidak memberikan informasi yang dibutuhkan, hal itu dapat memberikan dampak yang tidak baik untuk UB yaitu kemungkinan wartawan akan memberitakan berita yang negatif. Berkaca dari kasus diatas terlihat bahwa humas UB tersebut belum berfungsi dengan baik Seorang praktisi humas harus bisa menciptakan dan membina hubungan pers yang baik.
KASUS 3
            Di dalam kasus yang ketiga ini menceritakan tentang seorang karyawan yang dikenal memiliki prestasi yang bagus, produktivitas tinggi, dan kreatif tetapi sekaligus juga menjadi trouble maker di dalam perusahaannya itu. Orang seperti Mahmud sangat dibutuhkan oleh perusahaan untuk meningkatkan penjualan produk dan mencari konsumen, namun sangat tidak baik untuk kesehatan perusahaan karena sikapnya yang kurang baik di dalam perushaan. Hal tersebut merupakan masalah yang penting untuk sebuah perusahaan. Disnilah humas berfungsi untuk memperbaiki apa yang terjadi.
            Teori yang digunakan untuk membantu menjawab manager MS menghadapi Mahmud yaitu teori harapan. Teori ini dikemukakan oleh Victor H. Vroom, dalam bukunya “Work And Motivation”. Menurut teori ini motivasi merupakan akibbat suatu hasil dari yang ingi dicapai oleh seseorang dan diperkirakan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkan.

Rabu, 04 April 2018

Analisis Kasus Menggunakan Teori-Teori Public Relations



Studi Kasus 1
Badrun adalah mahasiswa komunikasi UB yang sedang magang di Hotel Savanah Malang. Badrun mendapat tugas dari Manajer PR HS untuk membuat klipping opini pembaca yang dimuat di surat kabar selama 3 bulan. Ia bertanya-tanya sebenarnya apakah tujuan dari kegiatan tersebut, gunakan argumen yang disertai  landasan teoritis.
Uraian
            Fenomena yang dialami Badrun dapat dianalisis menggunakan kajian teori Public Relations yakni teori Agenda Building Information Subsidies. Teori ini merupakan serapan dari teori komunikasi massa yakni teori Agenda Setting. Merupakan teori yang menyatakan bahwa media massa memiliki power untuk menentukan kebenaran. Dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa.
Media memang memiliki dua power yang sangat besar, yakni kuasa untuk mempengaruhi publik dan kuasa sebagai gatekeeper yang bermakna sebagai framing serta penyeleksi apa yang hendak diberitakan (Kriyantono, 2014, h. 326). Hal ini bermakna bahwa masyarakat cenderung menilai sesuatu penting, sebagaimana media massa menganggap hal tersebut penting. Sebaliknya, jika isu tersebut tidak dianggap penting oleh media massa, maka isu tersebut juga menjadi tidak penting bagi diri masyarakat, bahkan menjadi tidak terlihat sama sekali. Itu merupakan makna dari teori Agenda Setting yang kami singgung sedikit.
Teori Agenda Building Information Subsidies dalam Teori Agenda Building Information subsidies memiliki 2 level (Kriyantono, 2014, h. 328) , yakni :
·         Amati isu yang dianggap penting, lihat apa yang terjadi dan fokus menjadi pemberitaan media dalam kurun waktu tertentu. Lakukan fokus pada bagian opini pembaca untuk melihat isu publik yang sedang berkembang di masyarakat.
·         Lalu lihat bagaimana media melakukan framing.
Anda bisa melakukan analisa pada praktik teori PR ini dengan melakukan klipping dengan mengamati beragam isu yang sedang diberitakan oleh media. Hal ini sesuai dengan kegiatan yang dilakukan oleh Badrun. Dengan melakukan pengamatan dalam kurun waktu tertentu, semisal 3 bulan. Dengan mengumpulkan klippping opini pembaca, maka kita dapat menyimpulkan isu apa yang tengah menjadi sorotan media dan menjadi opini publik.
Selanjutnya sebagai seorang praktisi PR, gunakan fokus bahasan media berdasarkan opini pembaca tersebut menjadi beragam kegiatan PR yang menarik. Dengan begitu kegiatan–kegiatan tersebut akan lebih mudah diterima dan mendapat perhatian publik, Karena sesuai dengan prioritas dan fokus publik. Bentuk aktivitas PR tersebut bisa dalam bentuk yang beragam sesuai kebutuhan publik. Salah-satunya, semisal isu Banjir. Praktisi PR bisa mencanangkan kegiatan pengerukan sungai dan reboisasi lewat penanaman seribu pohon. Hal tersebt akan lebih mudah untuk diterima masyarakat karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat lewat fokus isu yang diberitakan media.
Disini peran teori Agenda Building Information Subsidies adalah fokus pemberitaan media dalam kurun waktu tertentu menjadi fokus praktisi PR dalam menciptaan aktivitas PR yang sesuai dengan kebutuhan publik. Hal ini juga berangkat dari fungsi PR sebagai jurnalist in residence yaitu mampu memberikan informasi pula kepada publik berdasarkan isu yang berkembang di ranah publik. PR tidak sekedar mengeluarkan press release namun Pr juga harus rajin membaca dan melakukan pengamatan.
PR dalam setiap kegiatannya menciptakan kerja sama berdasarkan relasi baik dengan publiknya secara kontinu ditumbuhkembangkan. Publik yang dimaksud di dalam PR adalah kelompok atau public yang terkait dalam pelaksanaan fungsi PR itu. Sebagai seorang praktisi PR akan sesuai apabila memetakan program – program CSR nya menyesuaikan isu yang berkembang. Dengan begitu akan mudah diterima oleh publik dan banyak mendapat perhatian publik. Kembali lagi, Badrun diberi tugas tersebut supaya ia mengamati isu apa yang menjadi perhatian media, lalu disalurkan melalui aktivitas PR untuk masyarakat. Supaya program yang dilaksanakan sesuai dengan masalah dan diterima masyarakat dengan baik.
                         



Studi Kasus 2
            Seorang wartawan melakukan wawancara dengan Humas UB tentang suatu kebijakan tentang pelarangan mahasiswa merokok di areal kampus. Saat Humas ditanya wartawan, Ia menjawab bahwa ia belum mampu memberikan klarifikasi sebelum adanya ijin dari pimpinan.
Uraian
            Fenomena tersebut dapat dianalisis menggunakan teori Uncertainly Reduction yang dicetuskan oleh Berger dan Richard Calabrase di tahun 1975. Fungsi dari komunikasi adalah untuk mengurangi keragu-raguan. Makna dari informasi adalah sebagai alat yang mampu mengurangi ketidakpastian pada situasi tertentu.
            Disini, peran dari praktisi PR adalah sebagai agen yang mampu memberikan informasi kepada khalayak. Ia dituntut harus memahamim suatu permasalahan lebih awal dan mendalam. Jangan sampai terjadi salah informasi. Karena informasi yang akan ia berikan akan dianggap berita oleh khalayak. Makna dari berita itu sendiri adalah informasi yang sudah tentu benar.
            Seorang praktisi PR dituntut harus memahami suatu kasus, lalu melakukan analisa. Ia harus mampu memprediksiskan kemungkinan yang respon publik dan apa yang akan terjadi. Ia dituntut memahami orang lain berkaca melalui diri anda, membuat prediksi tentang perilaku orang lain, lalu menjelaskannya. (Kriyantono, 2014, h. 140).
            Melalui sikap yang dicerminkan oleh Humas UB saat ditanya oleh wartawan, hal tersebut sangat tidak efektif dilihat dari segi publisitas media. Dikhawatirkan media akan mengarang berita yang tidak sebenarnya karena Humas tidak mamberikan informasi yang cukup pada awak wartawan.  Sikap Humas tersebut sangatlah tidak mencerminkan posisi dari praktisi PR sebagai jurnalist in residence. Seharusnya ia memberikan kecukupan informasi yang dibutuhkan oleh media, ia dituntut untuk memahami kasus lebih awal sehingga mampu membuat prediksi sikap yang menjadi respons publik selanjutnya. Hal tersebut berdasarkan analisa teori ini maka peran dari Praktisi Humas UB ini dirasa sangat kurang efektif dan tidak mencerminkan peran praktisi PR yang sesungguhnya.


Studi Kasus 3
            Marmud adalah karyawan PT Makmur Sekali, ia dikenal sebagai pribadi yang berprestasi dan gigih. Ia mampu menarik konsumen secara cepat karena kemampuannya. Namun, disisi lain ia dikenal sebagai pembuat onar, dia sering membolos, bertengkar dengan rekan kerja dan lebih suka bekerja sendiri.
Analisis
            Pada fenomena ini, kita dapat menggunakan teori the mathematical information. Teori ini diungkapkan oleh Shannon & Weafer di tahun 1964. Mereka menganggap bahwa komunikasi merupakan suatu proses transmisi. Proses transimisi yang menyalurkan informasi dari satu titik ke titik lainnya. Pada proses ini selamanya tidak selalu lancar, akan selalu ada noise yang terjadi didalamnya. Noise inilah yang akhirnya menciptakan gangguan persepsi akibat informasi yang diterima komunikan secara tidak sempurna. Noise ini dapat berupa noise, mekanik, sementik, environment dan lain-lain.
Teori ini memiliki 3 level (Kriyantono, 2014, h. 134), yakni :
1.      Seberapa akurat simbol komunikasi dapat dttransmisikan
2.      Setepat apa simbol menyampaikan makna yang diinginkan komunikator
3.      Seberapa ekektif makna yang diterima mempengaruhi komunikan seperti yang diinginkan komunikator
Melihat kasus yang terjadi pada Marmud adalah kasus noise, seorang praktisi PR diposisikan orang yang mampu memahami alur pikiran dari Marmud. Marmud adalah contoh orang yang memiliki potensi namun kurang sesuai dengan kondisi lingkungan. Kondisi lingkungan inilah yang menjadi noise dan harus dilihat apa yang kurang sesuai. Berdasarkan alur transmisi liniernya dapat dilihat dan dikoreki mana bagian yang dianggap noise dan kurang sesuai.




Studi Kasus
PT HS adalah perusahaan yang besar hyang bergerak dibidang asuransi jiwa, lalu mendadak ia kalah dengan PT BS disampingnya yang bergerak dibidang catering, PT BS seringkali mendapat liputan media.
Analisis
            Fenomena ini dapat dianalisis menggunakan teori relationship management yakni teori upaya menjaga relasi. Melihat fenomena ini harus dilihat terlebih dahulu, apakah praktisi PR mampu melakukan komunikasi yang efektif sehingga mampu menjalin relasi yang baik dengan media. Sehingga media mau meliputnya.

Selasa, 28 Maret 2017

Kedaulatan Frekuensi



BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Perkembangan media yang semakin pesat telah mengubah pola – pola kehidupan masayarakat yang semakin kaya akan informasi.Informasi kini didapat dengan mudahnya melalui beragam media cetak maupun elektronik.Pola masayarakat seiring berkembangnya waktu bergeser menjadi masyarakat yang dimudahkan dengan teknologi elektronik.Informasi bertebaran dimanapun, hingga sering kita terlibat perang komentar terhadap berita yang terkadang hanya hoax dan memicu pertengkaran.
Disinilah peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bertugas, selain bertugas mengawasi isi siaran, melayani pengaduan masyarakat terhadap isi siaran dan dalam rangka menjaga martabat dunia penyiaran Indonesia itu sendiri.Memang miris melihat dunia pertelevisian yang kebanyakan mengejar rating, namun kurang memberi konten yang yang edukatif terhadap masyarakat.
Bukan masyarakat kita yang tidak bisa memilih konten yang pas, namun yang sifatnya benar – benar edukatif memang sedikit sekali.Tentu hal ini sangat berdampak bagi anak – anak yang menonton televisi tanpa bimbingan orang tua.Disinilah peran KPI cukup penting dan sangat berkontribusi.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana kriteria dari dunia penyiaran yang bermartabat ?
2.      Apa yang dimaksud kriteria kewaspadaan dan peningkatan taraf hidup dalam dunia penyiaran ?
3.      Apa saja kriteria acara televisi yang mencerdaskan ?
4.      Bagaimana penjelasan mengenai problematika keriuhan media ?
5.      Apa saja dimensi dan etika penyiaran ?
6.      Apa keterkaitan antara KPI dan lembaga penyiaran ?

1.3 Tujuan
1.      Mengetahui kriteria dari dunia penyiaran yang bermartabat
7.      Mengetahui kriteria kewaspadaan dan peningkatan taraf hidup dalam dunia penyiaran ?
2.      Apa saja kriteria acara televisi yang mencerdaskan
3.      Memahami berbagai acara televisi yang mencerdaskan
4.      Mengetahui fenomena tentang problematika keriuhan pada media
5.      Mengetahui maksud dimensi dan etika penyiaran
6.      Memahami keterkaitan antara KPI dan lembaga penyiaran
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Dunia Penyiaran yang Bermartabat
Kita tentu sering mendengar tentang beberapa acara televisi yang diminta untuk tidak tayang terlebih dahulu leh KPI,Pernahkah kita bertanya apa alasannya? Ada beberapa alasan yang mendasari KPI melakukan hal tersebut.Diantaranya bisa jadi program tersebut dinilai meresahkan masyarakat, atau adanya pihak masyarakat yang mengadukan terhadap acara televisi yang tayang.Peran KPI tidaklah sesederhana yang kita tahu,tujuan KPI dalam memberikan sanksi teguran adalah demi merekonstruksi kembali kemandekan – kemandekan yang terkait dengan kebijakan penyiaran yang berdampak pada munculnya tayangan yang buruk.Dalam konteks bisnis, hal ino menjadi sanagt penting karena termasuk kebutuhan pelayanan publik.Dalam konteks keindonesiaan jika kebijakan yang diterapkan keliru, maka akan berdamapak pada masyarakat yang tidak mendapat ruang untuk mengakses informasi yang bersifat edukatif.
KPI amat peduli kepada publik karena frekuensi memang milik publik.Seluruh wilayah layanan di Indonesia secara geografis digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi.Akan tetapi, karena masih lemahnya regulasi penyiaran, kebutuhan masyarakat akan informasi sering dijustifikasi sebagai kebutuhan bisnis.Penyiaran yang sehat dan cerdas telah diatur dalam undang – undang nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran (Pasal 1 ayat 10) secara tegas menyuratkan sistem penyiaran nasional dan tatanan penyelenggaraan penyiaran nasional diatur berdasarkan ketentuan perundang – undangan yang berlaku demi tercapainya asas, tujuan, fungsi, dan arah penyiaran nasional sebagai upaya mewujudkan cita – cita nasional, sebagaimana digariskan di dalam Pancasila dan UUD 1945. Kehadiran teknologi merupakan hal yang tidak bisa dihindari oleh manusia.Manusia hampir selalu dikelilingi oleh teknologi dalam setiap geraknya kehidupannya.Hal tersebut menarik perhatian pemikir berkebangsaan Kanada, Marshall McLuhan melalui bukunya Understanding Media (1964) ia menulis mengenai pengaruh teknologi.Menurutnya, teknologi media telah menciptakan revoplusi media di tengah masyarakat.Hal tersebut dikarenakan masyarakat sudah sangat bergantung terhadap media dan tatanan masyarakat terbentuk berdasarkan pada kemampuanm masyarakat menggunakan teknologi.McLuhan menggambarkan teknologi elektronik sebagai berikut :
·         Telepon           : berbicara tanpa dinding
·         Fotografi          : museum tanpa dinding
·         Cahaya                        : ruang tanpa dinding
·         Film, Radio, dan TV : ruang kelas tanpa dinding
·         Phonograph (alat pemutar lagu)           :gedung pertunjukan musik tanpa dinding
Menurutnya, Soluran komunikasi memiliki kekuatan dan memberikan pengaruh terhadap masyarakat.Karena media adalah pesan.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beruntung karena sajian penyiaranpenyiarannya diselelaraskan dengan kebutuhan masyarakat dan budaya bangsa.Kita sebagai penikmat media dapat mengamati media yang bersifat siklus, apabila peringatan hari Pahlawan maka media akan meliput hal tersebut, dan contoh selainnya.Insan penyiaran Indonesia adalah insan yang berkesadaran tinggi dalam menjaga dan meningkatkan moralitas,nilai – nilai religi, sertajati diri bangsa.Melalui bahasa yang maha luas, melalui kecerdasan bahasanya, insan penyiaran Indonesia adalah individu – individu yang berperilaku etis terhadap berbahasa sehingga, tidak menyinggung perasaan suku, agama, dan ras yang beragam di bumi pertiwi.
1.2 Kewaspadaan dan Peningkatan Taraf Hidup
            Insan penyiaran secara berwaspada harus memberikan nformasi dan mpotivasi secara lengkap dan utuh kepada masyarakat.Pasalnya, masyarakat berhak memilih sendiri siaran yang disukainya, untuk kemudia diselaraskan dengan kesejahteraan hidupnya.Selain itu, insan penyiaran juga harus mapu berpikir, berkata dan bertindak yang efeknya berada diatas kepentingan semua golongan.Dalam rangka menjaga dan mempererat persatuan bangsa.Apapun yang hendak ditayangkan hendaknya tontonan yang memberikan semanagat moral bangsa, karena fungsi televisi sendiri sebagai sarana edukasi masyarakat.
            Menayangkan informasi prihal disiplin dan taat hukum, misalnya adalah salah satu bukti kewaspadaan insan penyiaran Indonesia dalam peran sertanya meningkatkan disiplin nasionalndalam segala hal.Termasuk dalam hal ini adalah upaya insan penyiaran dalam memberikan edukasi atau motivasi tentang penyaluran pendapat umum yang santun yang berpegang teguh pada musyawarah dan kekeluargaan misalnya, melalui penayangan pemilihan ketua suku.Tidak ketinggalan adalah peran aktif insan penyiaran dalam upaya pelestarian lingkungan karena memang amat penting bagi kehidupan generasi selanjutnya.
            Ketika burung berkicau, koita bisa jadi memperhatikan dan mendengarkannya.Sebelumnya mungkin kita hanya meremehkan objeknya, akan tetapi apabila ada dua burung yang saling berkicau, aku harus benar – benar memperhatikan, mendengarkan dan mempelajarinya.(Times & Times, 2017b)Kita dapat mengklasifikasikan dalam BBC tayangannya dalam tiga hal, yakni : konser, opera dan dokumenter.Dari ketiga hal tersebut tayangan yang paling populer adalah dokumenter.Dikarenakan pertunjukan konser ataupun opera akan lebih terlihat nyata apabila ditonton lewat pertunjukan nyata(Times & Times, 2017a) .BBC juga mengklaim bahwa penayangan siaran yang berbau agama akan menjadi penjembatan antara organisasi yang bergerak dibidang keagamaan dengan orang – orang yang haus akan agama (Kane, 2017).Televisi bisa dikatakan pencerminan dari segala aktifitas sosial lewat iklan – iklannya (Gill & Gill, 2017).Para penyiar haruslah memiliki cara  penanaman nilai yang berbeda karena dirinya kecil dan murah namun berjuang dalam kelas yang besar (Bryson, 2017).

1.2.1 Program Siaran yang Mencerdaskan
            Membangun dunia siaran yang bermartabat tak semudah membalikkan telapak tangan.Televisi telah menjadi media yang dominana sehingga industri pertelevisian menjadi paling populer.Mengingat para pemirsanya menghabiskan waktu 5-6 jam sehari dengan jumlah penonton 94 persen.Sejak tahun 2000-an persada Indonesia telah diramaikan oleh kehadiran lima grup besarstasiun televisi , yakni MNC TV, Trans, Emtek, Bakrie, dan Metro TV.Sementara itu,keberadaan media cetak semakin tergeserdengan keberadaan new media. Broadcasting adalah pemancaran progam televisi,proses pengirirman sinyal ke berbagai lokasi secara bersamaan,baik melalui satelit, radio, televisis, maupun melalui komunikasi data pada jaringan dan sebagainya.(Kamus Istilah Pertelevisian karangan Leli Achlina & Purnama Suwardi,2011,h.27)
Studi komunikasi adalah studi tentang makna dalam sirkulasi sosialnya.Analisis tekstual merupakan hal yang sangat penting bagi studi komunikasi.komunikasi bukanlah subyek, dalam arti kata akdemis kata tersebut, melainkan sebuah bidang multidisiplin.Pandangan ini akan memunculkan pandangan lain bahwa apa yang dikatakan oleh para psikolog dan sosiolog mengenai perilaku komunikasi manusia tidak berhubungan dengan apa yang dikatakan kritikus sastra.
            Lalu, apa sesungguhnya tontonan yang mencerdaskan bangsa ?menurut Henny Supolo, pengamat pendidikan, adalah tontonan yang inspiratif karena hadirnya seluruh kekuatan yang dimiliki bangsa ini.Tontonan yang yang yang benar – benar punya komitmen moral.Cobalah ingat kembali mengenai penayangan prihal wafatnya ustaz gaul Jefri al- Bukhori, seyogyanya, stasiun televisi dapat mendengarkan suara hatinya.Apakah ia wajib untuk menayangkan peristiwa duka itu secara berturut – turut atau tidak.Tayangan itu mungkin enak dan bermanfaat, namun apakah pihak stasiun televisi itu mau bertanggung jawab mengenai dampak etis berkenaan kehidupan eluarga ustaz mengingat hampir setiap hari mereka ditampilkan oleh stasiun televisi.Tidakkah kita boleh percaya bahwa sisi – sisi kehidupan mereka yang awalnya pribadi menjadi konsumsi publik serta- merta? Kita boleh yakin, stasiun TV tersebut hanya berpikirpenayangan itu akan mendongkrak rating sehingga dapat sekaligus menagkap iklan besar.Patut untuk direnungi, akal sehat belum tentu lebih perkasa dari suara hati, mengingat akal sehat cenderung berangkat dari generalisasi yang bersifat subjektif, emosional dan biasanya dipenuhi pleh prasangka.
Media penyiaran ibarat cermin yang merefleksikan berbagaiperistiwa yang terjadi diu dunia . Dengan begitu patit dipertanyakan secara etis mengapa lembaga penyiaran sering merasa tidak bersalah ketika menayangkan tontonan yang penuh kekerasan dengan kekerasan , konflik, pornografi dan berbagai hal buruk yang berkenaan dengan moral.Padahal jika melihat pendapat McQuail, media penyiaran hanayalah merefleksikan fakta.Artinya secar profesional media penyiaran dapat membingkai fakta yang mentah menjadi berguna bagi moral bangsa.Apalagi sudah diketahui pemirsa tidak sepenuhnya bebas untuk menetapkan apa yang sesungguhnya merekainginkan.
            Media penyiaran merupaka filter yang menyeleksi berbagai fenomena yang layak mendapat perhatian pada standar penyiaran yang ditetapkan oleh KPI dalam memilih isu, informasi dan format isi penyiaran.Terkait kode etik jurnalistik sudah seharusnya wartawan menyajikan berita yang berimbang dan secara berimbang dan adil mengutamakn kecermatan dari kecepatan.
            Media penyiaran sebagai [penunjuk jalan yang bertugas u tuk menunjukkan arah yang benar kepada pemirsanya atas berbagai ketidakpastian, alternatif dan keberagaman informasi.Media penyiaran juga dpat dikatakan sebagai untuk mempresentasikan ide – ide pemirsanya sehingga diharapkan adanya umpan balik.
            Bila mau jujur, media massa kinimemang sedang menghadapi masalah bera.Betapa tidak, walau kebebasan pers dewasa ini amat bisa dirasakan, pembentukan karakter yang merupakan misi pembentukan media massa itu sendiri terbentur oleh pergerakan media oleh pasar.Dalam ungkapan lain,praktik pemberitaan atau penyiaran televisian kita cenderung tidak lagi diwarnai oleh idealisme jurnalistik atau nilai – nilai luhur bangsa akan tetapi. Telah dilumuri oleh seberapa jauh tayangan tersebut bisa dijual di pasar dengan berpedoman pada rating.Oleh karena itu, sebagai sarana berlalu lalangnya informasi sudah seharusnya, media adalah alat komunikasi interaktif antara penonton dan insan media yang bermanfaat bagi kecerdasan bangsa.

1.2.2 Dimensi Etika Penyiaran
            Pemahaman tentang etika penyiaranIndonesia juga harus dipertalikan dengan kode etik lembaga penyiaran Indonesia.Seperti halnya kode etik profesi lainnya, kode etik penyiaran diharapkan dapat mengatur perilaku moral anggota suat lembaga penyiaran.Harapan ini tebtu bukan hareapan berlebihan karea kode etik ini penyiaran dirumuskan secar tertulis oleh para anggota lembaga penyiaran berdasarkan cita – cita dan ilai – nilai yang hidup dikalangan itu sendirir.Berkenaan dengan informasi yang relevan dan sesuai, pada hakikatnya fakta atau realitas itu sendiri adalah kenyataan semu yang telah terbentuk oleh oleh proses kekuatan sosial , budaya, politik dn ekonomi.Semisal contoh tayangan seseorang yang awalnya tidak terkenal , akan tetapi mendadak terkenal karena menjadi istri koruptor , berarti pemorsa telah dibentuk secara paksa oleh media penyiaran tentang seseorang yang patut ditayangkan sehingga muncul;lah kenyataan semu bahwa seseorang itu memang patut ditayangkan berulang – ulang dan terus menerus.
1.2.3 Keriuhan yang Membingungkan
Pada masa lalum ketika dunia pertelevisian kita hanya diisi oleh TVRI anak – anak dan remaja hanya mendapat hiburan dari si tokoh boneka si Unyil.Kini, seiring perkembangan zaman, ketika bermunculan siaran TV swasta ,anak – anak dan remaja kita mulai kebingungan dengan pilihan tontonan mereka, alias keriuhan yang membingungkan.Wahyuni menggambarkan dengan tersedianya berbagai progam acara yang makin beragam membuat para pemirsaya rela menghabiskan waktu 5-6 jam hanya untuk menikmati acara televisi tersebut dengan dominasi penonton 94 persen, luar biasa bukan?
Televisi adalah bagian dari prakondisi dan konstruksi selektif pengetahuan sosial yang kita buat untuk membuat prespeksi dunia realitas kehidupan orang lain, dan secara imajiner merekonstruksi hidup kita sehingga menurut Barker menjadi semacam keseluruhan dunia.Jika dari segi budaya Indonesia memiliki modal besar dalam industri televisi.Keragaman  budaya dan sosial masyarakat Indonesia contohnya, sebenarnya menjadi bahan baku yang tak pernah basi menjadi bahan rekonstruksi menjadi teks – teks buadaya baru di televisi.
Era digitalisasi yang bisa dimaknai sebagai cerminan era globalisasi, memang membutuhkan tingkat kecermatan sendiri .Selain penyajian program siaran yang berkualitas , infrastruktur yang memadai, juga diperlukana peran pemerintah dalam menduykung industri kreatif supaya para insan dunia penyaiaran mampu berkompetisi secara global.Duia perteleviian Indonesia memang bisa dikatakan belum mengacu pada kepentingan publik.Semangat ini meminjam meminjam pendapat Barker ebenarnya menghinggapi hampir seluruh pertelevisian dunia.Akar semangat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
·         Karena adanya penyiaran publik dan penyiaran komersial secara bersamaan
·         Karena makin banyaknya perusahaan multimedia transnasional
·         Karena adanya deregulasi penyiaran komersial
·         Karena tekanan terhadap televisi pelayanan publik untuk bekerja secara logika komersial

  Sebagaimana telah disinggung dalam pembahasan sebelumnya, penyiaran pada dasarnya merupakan suatu tata permainan bahasa tersendiri yang berbeda dari tata permainan bhasa lainnya, yang oleh karena itu memilikinilai – nilai, batas – batas, dan aturan – aturan yang harus dipatuhi oleh oleh pelaku industri penyiaran.Sudah hakikatnya bahwa bahasamemiliki dimensi empiris dan sekaligus non empiris yang berupa nilai.Dengan begitu, setiap produk siaran mengandung suaru putusan moral yang memiliki dua dimensi tersebut.

1.2.4 KPI dan Kompetisi Industri Penyiaran
Sebagai lembaga indepnden negara yang yang bertugas mengawasi regulasi penyiaran di Indonesia.KPI mempunyai peran sentral dalam mengantisipasi persainagn di Industri penyiaran.Pengawasan ini dalam hal mengawasi strategi kelayakan isi berita dan strategi yang dilancarkan oleh lembaga penyiaran itu sendiri.Pada dasarnya, di dalam bisnis penyiaran tercakup berbagi kepentingan masyarakat dalam memperoleh informasi.Oleh karena itu orientasi tugas KP[I memang seharusnya dalam rangka memnuhi kebutuhgan publik.Kebutuhan ini adalah kebutuhgan yang tidak bisa ditawar – tawar lagi mengingat uu nomor 32 tahun 2002 masih lemah dalam hal – hal berikut :
·         Belum membahas antisipasi perpimdaham sistem analog ke digital,padahal pada saat ini hampir semua perangkat pendukung menggunakan teknologi digital.
·         Belum menjelaskan dan mengaskan aturan tata cara baimana media dapat berkonvergensi dengan tekniologi komunikasi yang memungkinkan adnay feedback dan partisipasi langsung.
·         Belum mengakui bahwa konvergensi di dunia media massa menwarkan dan melakukan semua yang belum bisa dilakukan media konvensional.

BAB III
KESIMPULAN
         Dalam dunia pertelevisian tentu tak akan dapat berjalan sendiri, perlu adanya pengawas dalam proses berjalannya.Disinilah peran dari lembaga KPI sebagai pengawas dan lembaga pengaduan masyarakat. Sehingga tujuan dari televisi dapat tercipta yakni mencerdaskan masyarakat.Karena mendapat informasi merupakan hak setiap individu.Sudah menjadi tugas bersama bahwa tayangan yang baik tentu akan membawa dampak yang baik pula bagi suatu bangsa.Oleh karena itu kita sebagai penonton tidak hanya menjadi penonton namun pengawas dalam jalannya.


DAFTAR PUSTAKA
Komunikasi Penyiaran Indonesia Pusat,Kedaulatan Frekuensi Regulasi Penyiaran, Peran KPI Dan  Konverensi Media,
Fiske, John (1990) Pengantar Ilmu Komunikasi, Jogjakarta : Buku Litera
Morisson (2013) Teori Komunikasi Individu Hingga Masa, Jakarta : Kencana
Bryson, L. (2017). Broadcasting, 17(2), 221–224.
Gill, A., & Gill, A. (2017). Broadcasting, 30(9), 585–588.
Kane, W. (2017). The Furrow, 4(8), 450–453.
Times, M., & Times, T. M. (2017a). Broadcasting Source : The Musical Times , Vol . 103 , No . 1431 ( May , 1962 ), p . 324 Published by : Musical Times Publications Ltd . Stable URL : http://www.jstor.org/stable/948806, 103(1431).
Times, M., & Times, T. M. (2017b). Broadcasting Source : The Musical Times , Vol . 105 , No . 1452 ( Feb ., 1964 ), p . 126 Published by : Musical Times Publications Ltd . Stable URL : http://www.jstor.org/stable/951244, 105(1452), 126–127.