Kamis, 05 April 2018

UTS TEORI - TEORI PUBLIC RELATIONS (DISKUSI KASUS)


Nama   : Yunita Ike Widyani
NIM    : 165120218113010
KASUS 1
Di dalam kasus yang pertama saya akan membantu Badrun menjawab menggunakan teori-teori Public Relations. Tidak dapat dapat di pungkiri bahwa media mempunyai pengaruh besar dalam membentuk opini publik sekaligus dapat meningkatkan citra organisasi di mata publik nya. Dengan kelebihan yang dimiliki berupa kecepatan dalam menyampaikan informasi serta memiliki jangkauan yang luas. Public Relation sebagai Boundary Spanning mempunyai fungsi sebagai penghubung antara organisasi dengan publik nya. Tugas Badrun sebagai staf magang melakukan monitoring pemberitaan surat kabar, membuat kliping opini pembaca dan menganalisis berita – berita surat kabar di rubrik seputar malang merupakan salah satu kegiatan penting praktisi Public Relation. Dalam kegiatan ini terdapat teori Public Relation yaitu media monitoring yang di aplikasikan badrun.
Teori media monitoring adalah yakni mencari, mengumpulkan, dan menganalisa berita-berita yang berkaitan dengan perusahaan di media massa. Kemudian, infomasi tersebut dapat diteruskan kepada puncak manajemen dalam bentuk usulan atau rekomendasi untuk dijadikan penilaian obyektif dalam pengambilan keputusan.
 dari kegiatan yang dilakukan Badrun membuat kliping opini pembaca yang dimuat surat kabar adalah untuk mengetahui apakah ada tamu hotel yang complain dengan pelayanan di Hotel Savanah yang dimasukan ke opini pembaca melalui media.jika ada, sudah menjadi tugas praktisi Public Relation untuk menganalisis kejadian dan menyelesaikan keluhan dari pelanggan tersebut dan memuat berita jawaban permintaan maaf jika memang kesalahan berasal dari manajemen internal hotel kepada tamu yang pernah menginap di Hotel Savanah atau membuat jawaban klarifikasi jika terjadi kesalah pahaman kepada ke surat kabar terkait yang memuat opini pembaca yang mengeluhkan pelayanan Hotel Savanah
Tujuan kedua dalam menganalisis berita – berita di surat kabar di rubrik seputar malang adalah untuk mengetahui kondisi keadaan malang dalam berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi dan sebagainya yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan keberadaan Hotel Savanah. Contoh jika pertumbuhan ekonomi di Malang semakin maju pesat, banyaknya turis yang berkunjung ke kota Malang, hal ini menjadi peluang bagi Hotel Savanah untuk mempromosikan serta meningkatkan pendapatan Hotel melalui promosi maupun event yang di buat oleh Hotel Savanah, informasi yang disajikan media merupakan informasi penting yang patut dipertimbangkan oleh pihak manajemen Hotel Savanah melalui Public Relation.
            Selain teori media monitoring yang dilakukan oleh Manager Hotel Savanah adalah uuntuk mengethui framing yang dilakukan oleh media terhadap reputasi hotel tersebut, Manager hotel tersebut ingin tahu sejauh mana media membuat framing terhadap hotel. Apakah media membuat framing yang baik ataukah framing yang buruk hal tersebut perlu dilakukan untuk mengevaluasi segala kegiatan yang dilakukan oleh hotel agar media berpihak kepada Hotel dan melakukan framing yang baik untuk citra Hotel Savanah.
            Kemudian setelah mengetahui framing media yang seharusnya dilakukan adalah memperbaiki hubungan baik dengan media (media relations). Di dalam menjalin relasi terhadap media ada teori dasar yang menjadi acuan dalam hal ini, yaitu Teori Agenda Setting. Di dalam teori ini mengatakan bahwa Media memiliki kekuatan besar untuk membuat opini public. Apa yang diberitakan media seolah –olah benar dan disetujui oleh publiknya. Opini- opini yang dibangun oleh media dapat memberikan pengaruh kepada publik, sehingga seorang public relation yang baik jika melihat teori ini harusnya menjalin relasi yang baik kepada media sehingga media akan  memberitakan berita-berita yang positif.
KASUS 2
Di dalam kasus yang kedua ini menceritakan tentang kebijakan baru yang dilakukan UB kepada seluruh mahasiswanya dilarang merokok diseluruh areal kampus UB. Hal ini mengundang perhatian media sehingga media ingin meliputnya, hal yang lazim ditanyakan oleh seorang wartawan adalah tentang kenapa kebijakan tersebut diberlakukan. Di dalam kasus ke 2 menyebutkan bahwa humas dari UB belum bisa memberikan jawaban sekarang, dan berkata harus meminta ijin terlebih dahulu terhadap pimpinan.
Menurut saya apa yang dilakukan humas UB yang tidak siap dengan pertanyaan wartawan tentang kebijaksanaan baru UB yang melarang mahasiswa merokok di areal kampus UB adalah tidak efektif karena seharusnya sebagai seorang humas kita selalu berkoordinasi dan ikut berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan dan selalu menggali informasi terhadap setiap kebijakan baru yang dikeluarkan oleh UB dalam uapaya untuk memahami dengan benar dalam rangka memberikan informasi atau berita kepada pihak internal dan eksternal kampus serta merencanakan bentuk sosialisasi yang efektif dan media yang tepat terhadap peraturan atau kebijakan baru tersebut.
Berdasarkan Teori Uncertainty Reduction : Menjaga Ketersediaan dan Kualitas Informasi diketahui bahwa publik harus dalam kondisi ketercukupan informasi (well-informed) tentang organisasi agar tidak terjadi pemahaman yang keliru terhadap organisasi tersebut. Artinya tidak ada kesenjangan informasi antara organisasi dan publiknya, dan sebaliknya.organisasi harus berupaya membantu publiknya mengurangi ketidakpastiandengan lebih terbuka memberikan informasi (seld-disclosure), karena itu public relations dituntut menjaga informasi agar berjalan dua arah timbal balik.
Dalam teori Excellence dijelaskan peran PR menyediakan saluran komunikasi dua arah timbal balik yang memungkinkan organisasi dan publik berbagi informasi dan menyampaikan gagasan. Agar peran ini berjalan baik, PR mesti mengkombinasikan peran sebagai teknisi dan manajer dengan baik. PR dapat memberikan masukan kepada manajer dan mengintegrasikan framework pengetahuan manajerial sehingga PR merupakan bagian dari koalisi dominan yang ikut dalam proses pengambilan keputusan dalam organisasi.
Dalam teori dan model informasi matematika, dalam petugas PR sebagai agen informasi perlu memperhatikan bagaimana menyediakan informasi yang berkualitas. Dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut : mampu memenuhi aspek kebutuhan informasi publik, dan informasi berkualitas jika berguna (useful), bernilai (valuable), faktual, dapat dipercaya (reliable), ketepatan (precision), dan kebenarannya (truth). Maka dari itu seharusnya humas dari UB menjawab pertanyaan humas dengan jujur dan tepat sehingga wartawan akan memberitakan berita yang sesuai dengan pernyataan yang diberikan humas serta masyarakat yang mendengar berita tersebut pun akan mendukung kebijakan yang dilakukan oleh universitas brawijaya
Jika dilihat dari fungsi humas, humas dari UB belum memberikan jawaban yang harusnya dijawab. Seorang humas yang baik harus mengetahui sebuah permasalahan yang ada di dalam organisasinya. Karena sesuai dengan fungsi humas yaitu : memberikan citra yang baik kepada publiknya, kepada stake holdernya, baik itu stake holder internal maupun stake holder eksternal. Hal ini sesuai denga teori stake holder. Bahwa seorang humas harus menjalin relasi yang baik terhadap stake holdernya, dan salah satu dari stake holder adalah wartawan. Jika yang terjadi seperti demikian menunjukkan bahwa humas UB tidak menjalin relasi yang baik dengan tidak memberikan informasi yang dibutuhkan, hal itu dapat memberikan dampak yang tidak baik untuk UB yaitu kemungkinan wartawan akan memberitakan berita yang negatif. Berkaca dari kasus diatas terlihat bahwa humas UB tersebut belum berfungsi dengan baik Seorang praktisi humas harus bisa menciptakan dan membina hubungan pers yang baik.
KASUS 3
            Di dalam kasus yang ketiga ini menceritakan tentang seorang karyawan yang dikenal memiliki prestasi yang bagus, produktivitas tinggi, dan kreatif tetapi sekaligus juga menjadi trouble maker di dalam perusahaannya itu. Orang seperti Mahmud sangat dibutuhkan oleh perusahaan untuk meningkatkan penjualan produk dan mencari konsumen, namun sangat tidak baik untuk kesehatan perusahaan karena sikapnya yang kurang baik di dalam perushaan. Hal tersebut merupakan masalah yang penting untuk sebuah perusahaan. Disnilah humas berfungsi untuk memperbaiki apa yang terjadi.
            Teori yang digunakan untuk membantu menjawab manager MS menghadapi Mahmud yaitu teori harapan. Teori ini dikemukakan oleh Victor H. Vroom, dalam bukunya “Work And Motivation”. Menurut teori ini motivasi merupakan akibbat suatu hasil dari yang ingi dicapai oleh seseorang dan diperkirakan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkan.

Rabu, 04 April 2018

Analisis Kasus Menggunakan Teori-Teori Public Relations



Studi Kasus 1
Badrun adalah mahasiswa komunikasi UB yang sedang magang di Hotel Savanah Malang. Badrun mendapat tugas dari Manajer PR HS untuk membuat klipping opini pembaca yang dimuat di surat kabar selama 3 bulan. Ia bertanya-tanya sebenarnya apakah tujuan dari kegiatan tersebut, gunakan argumen yang disertai  landasan teoritis.
Uraian
            Fenomena yang dialami Badrun dapat dianalisis menggunakan kajian teori Public Relations yakni teori Agenda Building Information Subsidies. Teori ini merupakan serapan dari teori komunikasi massa yakni teori Agenda Setting. Merupakan teori yang menyatakan bahwa media massa memiliki power untuk menentukan kebenaran. Dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa.
Media memang memiliki dua power yang sangat besar, yakni kuasa untuk mempengaruhi publik dan kuasa sebagai gatekeeper yang bermakna sebagai framing serta penyeleksi apa yang hendak diberitakan (Kriyantono, 2014, h. 326). Hal ini bermakna bahwa masyarakat cenderung menilai sesuatu penting, sebagaimana media massa menganggap hal tersebut penting. Sebaliknya, jika isu tersebut tidak dianggap penting oleh media massa, maka isu tersebut juga menjadi tidak penting bagi diri masyarakat, bahkan menjadi tidak terlihat sama sekali. Itu merupakan makna dari teori Agenda Setting yang kami singgung sedikit.
Teori Agenda Building Information Subsidies dalam Teori Agenda Building Information subsidies memiliki 2 level (Kriyantono, 2014, h. 328) , yakni :
·         Amati isu yang dianggap penting, lihat apa yang terjadi dan fokus menjadi pemberitaan media dalam kurun waktu tertentu. Lakukan fokus pada bagian opini pembaca untuk melihat isu publik yang sedang berkembang di masyarakat.
·         Lalu lihat bagaimana media melakukan framing.
Anda bisa melakukan analisa pada praktik teori PR ini dengan melakukan klipping dengan mengamati beragam isu yang sedang diberitakan oleh media. Hal ini sesuai dengan kegiatan yang dilakukan oleh Badrun. Dengan melakukan pengamatan dalam kurun waktu tertentu, semisal 3 bulan. Dengan mengumpulkan klippping opini pembaca, maka kita dapat menyimpulkan isu apa yang tengah menjadi sorotan media dan menjadi opini publik.
Selanjutnya sebagai seorang praktisi PR, gunakan fokus bahasan media berdasarkan opini pembaca tersebut menjadi beragam kegiatan PR yang menarik. Dengan begitu kegiatan–kegiatan tersebut akan lebih mudah diterima dan mendapat perhatian publik, Karena sesuai dengan prioritas dan fokus publik. Bentuk aktivitas PR tersebut bisa dalam bentuk yang beragam sesuai kebutuhan publik. Salah-satunya, semisal isu Banjir. Praktisi PR bisa mencanangkan kegiatan pengerukan sungai dan reboisasi lewat penanaman seribu pohon. Hal tersebt akan lebih mudah untuk diterima masyarakat karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat lewat fokus isu yang diberitakan media.
Disini peran teori Agenda Building Information Subsidies adalah fokus pemberitaan media dalam kurun waktu tertentu menjadi fokus praktisi PR dalam menciptaan aktivitas PR yang sesuai dengan kebutuhan publik. Hal ini juga berangkat dari fungsi PR sebagai jurnalist in residence yaitu mampu memberikan informasi pula kepada publik berdasarkan isu yang berkembang di ranah publik. PR tidak sekedar mengeluarkan press release namun Pr juga harus rajin membaca dan melakukan pengamatan.
PR dalam setiap kegiatannya menciptakan kerja sama berdasarkan relasi baik dengan publiknya secara kontinu ditumbuhkembangkan. Publik yang dimaksud di dalam PR adalah kelompok atau public yang terkait dalam pelaksanaan fungsi PR itu. Sebagai seorang praktisi PR akan sesuai apabila memetakan program – program CSR nya menyesuaikan isu yang berkembang. Dengan begitu akan mudah diterima oleh publik dan banyak mendapat perhatian publik. Kembali lagi, Badrun diberi tugas tersebut supaya ia mengamati isu apa yang menjadi perhatian media, lalu disalurkan melalui aktivitas PR untuk masyarakat. Supaya program yang dilaksanakan sesuai dengan masalah dan diterima masyarakat dengan baik.
                         



Studi Kasus 2
            Seorang wartawan melakukan wawancara dengan Humas UB tentang suatu kebijakan tentang pelarangan mahasiswa merokok di areal kampus. Saat Humas ditanya wartawan, Ia menjawab bahwa ia belum mampu memberikan klarifikasi sebelum adanya ijin dari pimpinan.
Uraian
            Fenomena tersebut dapat dianalisis menggunakan teori Uncertainly Reduction yang dicetuskan oleh Berger dan Richard Calabrase di tahun 1975. Fungsi dari komunikasi adalah untuk mengurangi keragu-raguan. Makna dari informasi adalah sebagai alat yang mampu mengurangi ketidakpastian pada situasi tertentu.
            Disini, peran dari praktisi PR adalah sebagai agen yang mampu memberikan informasi kepada khalayak. Ia dituntut harus memahamim suatu permasalahan lebih awal dan mendalam. Jangan sampai terjadi salah informasi. Karena informasi yang akan ia berikan akan dianggap berita oleh khalayak. Makna dari berita itu sendiri adalah informasi yang sudah tentu benar.
            Seorang praktisi PR dituntut harus memahami suatu kasus, lalu melakukan analisa. Ia harus mampu memprediksiskan kemungkinan yang respon publik dan apa yang akan terjadi. Ia dituntut memahami orang lain berkaca melalui diri anda, membuat prediksi tentang perilaku orang lain, lalu menjelaskannya. (Kriyantono, 2014, h. 140).
            Melalui sikap yang dicerminkan oleh Humas UB saat ditanya oleh wartawan, hal tersebut sangat tidak efektif dilihat dari segi publisitas media. Dikhawatirkan media akan mengarang berita yang tidak sebenarnya karena Humas tidak mamberikan informasi yang cukup pada awak wartawan.  Sikap Humas tersebut sangatlah tidak mencerminkan posisi dari praktisi PR sebagai jurnalist in residence. Seharusnya ia memberikan kecukupan informasi yang dibutuhkan oleh media, ia dituntut untuk memahami kasus lebih awal sehingga mampu membuat prediksi sikap yang menjadi respons publik selanjutnya. Hal tersebut berdasarkan analisa teori ini maka peran dari Praktisi Humas UB ini dirasa sangat kurang efektif dan tidak mencerminkan peran praktisi PR yang sesungguhnya.


Studi Kasus 3
            Marmud adalah karyawan PT Makmur Sekali, ia dikenal sebagai pribadi yang berprestasi dan gigih. Ia mampu menarik konsumen secara cepat karena kemampuannya. Namun, disisi lain ia dikenal sebagai pembuat onar, dia sering membolos, bertengkar dengan rekan kerja dan lebih suka bekerja sendiri.
Analisis
            Pada fenomena ini, kita dapat menggunakan teori the mathematical information. Teori ini diungkapkan oleh Shannon & Weafer di tahun 1964. Mereka menganggap bahwa komunikasi merupakan suatu proses transmisi. Proses transimisi yang menyalurkan informasi dari satu titik ke titik lainnya. Pada proses ini selamanya tidak selalu lancar, akan selalu ada noise yang terjadi didalamnya. Noise inilah yang akhirnya menciptakan gangguan persepsi akibat informasi yang diterima komunikan secara tidak sempurna. Noise ini dapat berupa noise, mekanik, sementik, environment dan lain-lain.
Teori ini memiliki 3 level (Kriyantono, 2014, h. 134), yakni :
1.      Seberapa akurat simbol komunikasi dapat dttransmisikan
2.      Setepat apa simbol menyampaikan makna yang diinginkan komunikator
3.      Seberapa ekektif makna yang diterima mempengaruhi komunikan seperti yang diinginkan komunikator
Melihat kasus yang terjadi pada Marmud adalah kasus noise, seorang praktisi PR diposisikan orang yang mampu memahami alur pikiran dari Marmud. Marmud adalah contoh orang yang memiliki potensi namun kurang sesuai dengan kondisi lingkungan. Kondisi lingkungan inilah yang menjadi noise dan harus dilihat apa yang kurang sesuai. Berdasarkan alur transmisi liniernya dapat dilihat dan dikoreki mana bagian yang dianggap noise dan kurang sesuai.




Studi Kasus
PT HS adalah perusahaan yang besar hyang bergerak dibidang asuransi jiwa, lalu mendadak ia kalah dengan PT BS disampingnya yang bergerak dibidang catering, PT BS seringkali mendapat liputan media.
Analisis
            Fenomena ini dapat dianalisis menggunakan teori relationship management yakni teori upaya menjaga relasi. Melihat fenomena ini harus dilihat terlebih dahulu, apakah praktisi PR mampu melakukan komunikasi yang efektif sehingga mampu menjalin relasi yang baik dengan media. Sehingga media mau meliputnya.